Tuesday, 19 August 2014

SERING NAIK KERETA, BANYAK KENALANNYA! #UNTUKKERETAKU

Saya ingat sekali sejak kecil saya sudah senang sekali naik kereta api. Sampai dengan SMA saya sering menggunakan kereta api selain jarak pendek Jogja-Solo juga ke Bandung dan Jakarta karena sebagian besar keluarga besar saya berada di kota itu.Saya pernah nyletuk ke ibu saya waktu kecil, “Bu, Kapan ya kita naik kereta api ke Surabaya? Apa karena nggak ada saudara kita di Surabaya, jadi kita nggak pernah naik kereta api ke Surabaya?”

Namun siapa sangka, 10 tahun kemudian, Ucapan itu justru kembali kepada saya yang sekarang menjadi pelanggan tetap kereta api Sancaka Sore jurusan Yogyakarta-Surabaya hampir setiap minggu sejak pertengahan tahun 2011 sampai sekarang!

Tiga tahun duduk di dalam bangku kereta api setiap minggu mebuat saya berkenalan dengan berbagai macam jenis dan ragam manusia. Meskipun makin sering saya naik Sancaka, saya perhatikan orangnya ya hanya itu-itu saja alias sama saja dengan saya yang selalu pulang pergi dengan Sancaka Sore setiap minggu. Dari banyak orang itu, muncul juga kejutan-kejutan yang tidak terduga dan cerita-cerita seru dari perjalanan bersama orang-orang tersebut :

  1. Seorang  bapak yang rajin bolak-balik dari Solo-Surabaya. Bapak IS yang kini saya tahu beliau adalah salah satu petinggi perusahaan telekomunikasi Indonesia Regional Jawa Timur. Bapak ini juga yang mengajari untuk membeli pecel di Stasiun Madiun, bukan dari pedagang yang menjajakan di pintu kereta namun benar-benar turun ke Stasiunnya. Kami harus berpacu dengan waktu berhenti kereta yang singkat demi mendapatkan nasi pecel hangat. Sampai sekarang saya masih sering bertemu dengan beliau di Sancaka.
  2. Seorang BApak Hakim yang kini ditugaskan di Mojokerto. Bapak T ini banyak bercerita mengenai seluk beluk hukum di Indonesia. Dari beliaulah saya tahu mengenai wisata di Trowulan dan juga peraturan bahwa 20 tiket bisa ditukar dengan 1 tiket (sebelum ada pengumunan dari KAI seperti sekarang)
  3. Mas T, seorang Karyawan Perusahaan Pemerintah di Surabaya, yang ternyata setelah saya ngobrol, YBS adalah adik kelas kakak saya dan juga sekaligus teman kecil sepupu saya, dan tetangga dosen saya! dunia sempit ya :D
  4. Mas A dan Mbak I, Kedua orang ini adalah teman SMP dan SMA saya! selama ini saya tidak pernah menemukan ada teman angkatan saya yang bekerja di Surabaya dan sekitarnya, lah, ternyata setiap minggu ada mereka juga di Sancaka
  5. Mas H yang ternyata adalah anak dari kolega ibu saya
  6. Mas I, yang saat ini sudah pindah ke Surabaya bersama dengan istrinya setelah kelahiran anak pertama mereka.
  7. Mas A, seorang pengusaha furnitur dan juga tukang negbolang yang calon istrinya masih berdomisili di Jogja. Lumayan, harga produknya jadi harga teman :D
  8. Ada satu bapak dari Madiun yang saya perhatikan selalu menggunakan jaket “Australia” bergambar Koala dan tas Janport. Beliau selalu naik dari Madiun Menuju Surabaya.
  9. Ada satu Bapak yang saya tidak tahu, tetapi waktu saya duduk di kursi depannya, saya mendengar beliau mengobrol dengan sebelahnya, beliau berkata, “ Saya bolak-balik mas tiap minggu dari Jogja ke Surabaya, ini sama kayak Mas yang duduk di depan ini, tiap minggu juga pulang”

Itu semua di luar teman kulaah dan tentu saja teman kantor saya yang sebagian besar pulang ke Jogja ketika Weekend. Bahkan ketika ada acara pernikahan teman kantor kami misalnya, hampir dapat dipastikan setengah gerbong itu kami saling kenal.

Satu lagi, saya pernah menyesal setengah mati ketika tahu cewek yang saya gebet duduknya hanya satu kursi di depan saya dan kami sama-sama tidak tahu padahal kebetulan kereta kosong dan kami berdua sama-sama duduk sendiri. Kami beru menyadari ketika sampai di Surabaya Gubeng hehehehe...
Mungkin masih banyak lagi orang yang saya temui di kereta, dan semuanya memberikan cerita dan pengalaman masing-masing. Sampai sekarang pun saya selalu bersiap untuk kejutan-kejutan dari orang di sebelah saya di Kereta  Sancaka Sore

*Tulisan ini Dibuat untuk mengkuti lomba #UntukKeretaku

ROMBONGAN AJAIB, DARI DANGDUTAN HINGGA OBAT NYAMUK #UNTUKKERTAKU


Sebagai pelanggan hampir setiap minggu dengan kereta api Sancaka jurusan Yogyakarya-Surabaya, banyak sekali kenalan, cerita, dan kejadian seru yang saya alami ketika naik kereta api. Salah satu kejadian seru dan kadang masih membuat saya geli terjadi sekitar pertengahan tahun 2013.

Waktu itu saya naik kereta Sancaka Sore kelas bisnis seperti biasanya. Karena saya datang agak awal, rangkaian kereta sudah tersedia di peron biasanya namun belum tersambung dengan lokomotif. Duduklah saya di kursi favorit saya yaitu dekat dengan jendela. Tak lama kemudian, masuklah satu rombongan entah keluarga entah rombongan rekreasi dan mulai duduk sesuai dengan tiket mereka. Rombongan itu terdiri dari sekitar kurang lebih 10 orang dan salah satunya duduk di sebelah saya. Ya, namanya juga rombongan habis jalan-jalan, pasti mereka bercerita dengan seru mengenai pengalaman mereka berjalan-jalan di Jogja.

Di tengah obrolan itu, salah seorang dari mereka menceletuk “loh, ini kursinya nggak kebalik ya? Kita kan mau ke Surabaya, ini kursinya salah hadap”. Teman yang lain juga menimpali “Iya, tadi kan kita nggakl lihat lokomotif di depan, pasti ini kebalik. Ayo, kursinya dibalik semua”.

Dan setelah itu mereka riuh untuk memutar kursi ke arah sebaliknya. Mungkin ada beberapa dari mereka yang belum pernah naik kereta sehingga belum mengerti caranya. Saya sih, masih memperhatikan dengan heran, dan entah mengapa, saya kok merasa jahat banget nggak memberi tahu mereka kalau arahnya terbalik. Tapi waktu itu saya masih asyik nonton di Tablet dan mereka makin riuh ngobrol, jadi saya biarkan saja.

Kereta berangkat tepat pada waktunya. Pemimpin Perjalanan KA dengan mikrofon wirelessnya memberangkatkan kami. Rupanya rombongan itu masih belum sadar kalau keretanya berjalan mundur dan masih asyik bercerita mengenai perjalan mereka di Jogja. Barulah setelah beberapa saat, salah seorang dari mereka menyadari dan berteriak ke rekan-rekannya untuk memutar kursi mereka kembali.

“Keseruan” rombongan itu ternyata tidak hanya sampai di situ. Di tengah perjalanan, salah satu rombongan mereka yang duduk di sebelah saya mulai memasang headset dan menyetel musiknya dengan volume yang luar biasa kencangnya hingga saya yang juga menggunakan headset dan sedang menonton video sampai bisa kedengaran! Lagunya adalah lagu Singkong Keju (Anak Singkong) yang liriknya:

Aku suka jaipong kau suka disko o’ o’ o’..Aku suka singkong kau suka keju oh oh oh....”

Saya hampir setengah mati menahan ngakak karena ternyata, si Bapak juga ikut nyanyi dengan keras sambil headset menempel di telinga! Untunglah tak lama kemudian, rombongan lainnya memberitahu untuk mengurangi suaranya.

Perjalanan pun makin ke Timur dan penumpang sedikit demi sedikit mulai tertidur seiring gelap yang datang. Rombongan sebelah juga mulai terkantuk-kantuk dan suasana sedikit sepi. Sejurus kemudian, terdengar lagu Anak Singkong kembali, kali ini melalui pengeras suara HP salah seorang dari mereka! Dan itu kencangnya bisa terdengar sampai satu Gerbong! Saya yang tadinya mengantuk kembali menahan ngakak karena lirik lagunya yang unik itu. Alunan lagu lawas dan dangdut terus terdengar sementara saya mulai mengendus aroma sesuatu terbakar, namun saya merasa tidak asing dengan baunya. Saya hampir yakin ini dari rombongan “seru” ini. Saya berpura-pura ke kamar mandi dan mencari sumber baunya dan saya mendapati salah satu dari mereka membawa obat nyamuk elektrik! Usut punya usut, anak mereka tertidur dan orang tuanya menyalakan obat nyamuk elektrik supaya sang anak lelap tidurnya. Boleh juga idenya untuk membawa obat nyamuk elektrik di dalam kereta! Perjalanan yang penuh dengan”Keseruan” :D


*Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba menulis #UntukKeretaku 

Saturday, 22 February 2014

Jalan-Jalan Ke Bawean. Pengalaman Baru, Teman Baru, Inpirasi Baru



Pertama kali menginjakkan kaki di Gresik pada pertengahan 2011, yang terbayang hanya pabrik, pabrik, dan pabrik. Bayangan saya kala itu sebagai pendatang, Gresik adalah salah satu kabupaten di Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan Surabaya. Paling juga kalau mau liburan ala-ala piknik di alam ya ke Malang yang sudah terkenal dengan hawanya yang sejuk.

Namun tak dikira tak disangka, Teman ngebolang saya yang selalu punya ide untuk jalan, Theda, bercerita bahwa salah satu sahabatnya sejak SD, Hety, menjadi Pengajar Muda (PM) di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Bawean? Gresik? Saya yang hampir satu tahun mendengar Pulau Bawean saja belum pernah. Ada gitu Gresik punya Pulau?

Saya mencoba googling sana-sini mengenai pulau Bawean. Tidak terlalu banyak situs atau berita yang berisikan tentang informasi wisata bawean. Secara umum, berita-beritanya cenderung berkisar urusan pemerintahan, transportasi, dan informasi umum tentang Pulau Bawean. Untungnya, saya punya teman juga yang paham sekali soal Gresik, Irwan. Dari Irwan juga saya tahu banyak mengenai tips dan trik menuju ke Pulau Bawean. Termasuk dimana loketnya, jadwal kapalnya, dan sebagainya.

Setalah Theda berhasil menghubungi Hety, dan dirapatkan sana-sini soal kapan berangkatnya, disepakati tanggal rencana keberangkatan pada 12 Mei 2012. beberapa hari sebelum hari rencana keberangkatan, dengan PD nya Saya menuju ke tempat pembelian tiket kapal cepat Express Bahari (EB) di Gresik, dan ternyata, semuanya sudah SOLD OUT alias habis karena kebetulan pada tanggal itu ada haul akbar di Bawean. Wah, dari semangat 45 langsung berasa lemes banget karena tidak mudah menentukan waktu kami untuk pergi ke sana mengingat kami hanya bsa pada week end.

Saya mencoba menghubungi Irwan kembali, dan memang Tuhan itu selalu menurunkan orang baik di saat yang tepat. Dengan keajiban dari teman Irwan, Mas Raffa, akhirnya kami berhasil mendapatkan tiket tentu saja setelah mengkonfirmasi kantor kapal Express Bahari di Bawean bahwa pada tanggal 13 Mei 2012 kami sudah pasti mendapatkan tiket untuk pulang ke Gresik. Akhirnya, Bawean, Here We Come! 

Kapal berangkat pada tanggal 12 pukul 09.00 dari dermaga pelabuhan Gresik. Ketika subuh datang, saya menjemput Theda di Terminal Bunder Gresik dahulu. Theda sendiri baru berangkat dari Jogja malam harinya. Jam 8 pagi, taksi biru membawa kami ke Pelabuhan Gresik. Sehari sebelumnya saya sendiri sudah ke Pelabuhan Gresik untuk melihat jenis kapal apa yang akan membawa saya ke Bawean. Rasanya sudah tak sabar hari itu untuk segera berlayar ke Bawean dengan kapalputh-orange bernama Express Bahari 1C itu.

Pelabuhan sudah ramai sekali. Sudah berbagai macam orang dan bawaan untuk sanak keluarga di Bawean bertumpuk-tumpuk di pelabuhan, dari kardus, makanan, pakaian, sampai mebel semuanya ada. Suasananya pun mirip sekali dengan pasar karena ketika ada kapal berlayar, sudah banyak orang yang berjualan di sekitar Pelabuhan. Akhirnya setelah menunggu, kami boarding masuk ke kapal. Saya amati banyak juga yang menggunakan identitas paspor. Baik paspor hijau, maupun paspor tetangga.

Perjalanan ini termasuk cukup panjang untuk perjalanan di laut. Bawean berjarak 80 mil laut di utara pulau jawa. Perlu waktu 3,5 jam untuk sampai ke sana menggunakan kapal cepat. Setelah terguncang-guncang di perut kapal (untunglah kala itu cuaca bersahabat) sampailah kami di Pelabuhan Sangkapura,Pulau Bawean.  Dan entah hari itu benar-benar cerah, dan menurut saya adalah langit paling bersih dan paling bagus yang pernah saya lihat. Benar-benar biru dan semburat putihnya membuatnya jadi makin indah. Cukup lama saya dan Theda berfoto-foto di pelabuhan. Kalau tidak ingat kami dijemput Hety,mungkin bisa lama kami ngendon di Pelabuhan.

Keluar dari pelabuhan, Hety sudah menjemput kami bersama dengan teman PM yang lain bernama Wintang. Baru pertama saya ketemu, rasanya sudah langsung cair.dan untungnya lagi, Hety paham betul kalau kami yang habis bergejolak dalam bahtera EB (halah) sudah kelihatan lapar. Kami pun dibawa ke McD. Wah, ada lagi nih, pulau Bawean ada McD? Ternyata maksud merekaberdua adalah Mak Dije. Sebuah warung makan sederhana yang ada di Bawean. Oalahm saya pikir Mas Ronald rambut merah sudah ekspansi sampai ke situ.

Di Warung ini, saya menemukan masakan yang enak banget. Bukan saya lapar, tapi saya gini-gini juga tahu kok mana masakan yang enak sama enak banget. Cumi hitam yang dimasak Mak Dije rasanay top banget. Pak Bondan kalau ke Bawean mungkin harus mampir ke sini nih. Tdak Cuma saya yang bilang enak banget. Theda saja sampe nyeletuk “Duh, kalau ngidam cumi hitam Mak Dije repot nih. Jauh dari Jogja”

Hari itu acara kami adalah keliling Bawean. Saya dan Theda dikenalkan dengan beberapa orang yang PM yang lain. Selain Hety dan Wintang, ada Lasti Putri, Icha, dan Tidar. Kami juga sempat merasakan keramahan yang luar biasa dari warga Bawean. Saya sebagai orang baru, orang luar, tapi diperlakukan dengan sangat ramah dan akrab. Seolah mereka sudah mengenal saya lama. Salah satunya adalah Mbak Amy. Karyawati Bank yang ada di Bawean. Meski bar kenal, beliau sangat ramah. Bahkan terasa sangat akrab.

Setelah mengobrol sebentar dengan mbak Amy, Kami mencari penginapan di Bawean, dan kami memilih hotel Pusaka Bawean. Kebetulan hari itu mama Putri sedang di Bawean, akhirnya kami semua termasuk semua PM diboyong untuk menginap di Hotel Pusaka Bawean itu. Hotelnya ada wi fi nya loh. Dan itu salah satu wi fi paling cepat yang pernah saya pakai. Kamar saya kebetulan berada di lantai 2 dan menghadap ke Pelabuhan. Dari jauhsaya bisa melihat EB yang membawa kami bersandar di pelabuhan dan dilatarbelakangi dengan langit yang cantik.

Sore hari saya diajak untuk menuju Pantai Selayar. Kami berangkat berboncengan naik sepeda motor. Saya waktu itu dibonceng oleh Wintang. Asyik mengobrol saya baru tahu kalau Wintang masa kecilnya pernah di Jogja sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Dan yang paling mengejutkan adalah Wintang itu teman sekelas saya waktu TK! Tuhan itu memang luar biasa. Saya bisa bertemu teman TK saya dengan cara yang ajaib!

Menjelang sore kami sampai ke Pantai Selayar. Ini baru namanya pantai pribadi. Benar-benar tidak ada orang di sini selain kami. Saya menyaksikan Sunset yang indah di sini. Sebenarnya ada Gili di seberang yang bisa dicapai dengan jalan kaki bila air surut. Namun mengingat itu sudah sore,kami urungkan niat tersebut. Di Pulau Selayar kami asyik foto-foto dengan sunset yang cantik. Seketika itu ada usulan untuk pegi ke Pulau Gosong di Noko Barat. Apalagi ada informasi bahwa kapal EB 1C yang seharusnya bertolak dari bawean hari Minggu pukul 09.00 akan berangkat pukul 13.00! Waaah... ini namanya rejeki!

Setelah gelap datang, kami kembali ke Sangkapura. Jangan dikira jalannya enak. medannya sangat terjal,gelap, tanpa penerangan. Kami melewati hutan, jalanan sempit, dan tanpa petunjuk sama sekali. Namun tampaknya para PM sudah hafal betul rute dan medannya. Alih-alih merasa takut, kami merasa seru naik motor dengan modal lampu motor dan dengan bintang di atas kami. Kami sempat mampir ke seorang bapak yang kapalnya akan kami sewa ke pulau Gusung besok.Tampaknya teman-teman PM ini sudah jag sekali bahasa Bawean. Ngobrolnya berasa asyik banget sama bapak itu.

Sampai di Hotel, kami bersih-bersih diri. Dan karena capek akhirnya saya tertidur dengan niat mau bangun untuk melihat sunrise. Niat ya tinggal niat, ternyata saya bangunnya kesiangan karena capek hehehe... Akhirnya setelah bersiap-siap kami menuju ke rumah bapak yang menyewakan kapal dan berangkatlah kami ke Pulau Noko.

Pulau Noko adalah semacam Pulau Gosong karena hanya berupa hamparan pasir dengan vegetasi yang terbatas. Airnya jernih sekali, pulaunya bersih, pasirnya halus. Kami banyak mengambil foto-foto dengan berbagai pose di sana. Kami pun berman air mengingat airnya begitu menggoda saking jernihnya. Gradasinya pun indah. Dari biru muda hingga biru gelap. Ombaknya tenang atau bahkan hampir tidak ada ombaknya. Mengingat kapal akan bertolak pada pukul 1 siang, kami kembali dan merapat di Pulau Bawean sebelum pukul 11 siang. Kami sempat diantar untuk mencari oleh-oleh kaos khas Bawean di rumah Bapak Camat (CMIIW). Saya sih sempat was-was taut ketinggalan. Tapi untungnya istri beliau ikut layar juga ke Gresik. Aman deh, nggak mungkin kan istrinya pak Camat ditinggal hehehe...

Sebenarnya masih ingin sekali kami mengunjungi danau Kastoba dan penangkaran Rusa. Bawean kan terkenal dengan rusanya. Tapi mosok nggak liat rusanya? Daripada ketinggalan EB dan harus naik tongkang, kami terpaksa merelakan 2 tempat itu dan berharap suatu ketika bisa kembali ke sana lagi. Setengah 1 siang, kami diantar kembali ke Pelabuhan Sangkapura oleh Hety dan Wintang. Dan tepat pada pukul 1 siang, kapal bertolak menuju ke Pelabuhan Gresik bersama dengan cerita baru, teman baru, semangat baru, dan pastinya inspirasi baru. Au Revoir Bawean. See you J

*) Note: Saat ini saya masih kepengen bisa ke Bawean lagi untuk ke Kastoba dan penangkaran rusa. Selain namun tampaknya cuaca beberapa waktu ini agak kurang mendukung. Ditambah lagi beberapa waktu lalu, transportasi menuju ke Bawean sempat simpang siur kepastiannya. Jadi buat saya yang kuli dan hanya bisa kabur pas weekend, agak sulit menyesuaikan waktunya. Dan regulasi yang baru sekarang, tidak ada EB yang berangkat ke Bawean sabtu dan kembali ke Gresik Minggu.

Tapi saya setuju dengan postingan sebelumnya, Pulau Bawean adalah salah satu mutiara yang tersembunyi di utara Gresik. Alamnya luar biasa indah, tidak terjamah tangan jahil, orangnya pun ramah. Dan mungkin benar anggapan bahwa semakin sulit untuk mencapai suatu daerah, maka alamnya pun akan semakin alami. Dan itu pun terlihat di Bawean. Saya pribadi melihat Bawean seperti Karimunjawa ketika saya kesana padaakhir tahun 2009. Tidak terlalu ramai, alamnya asri, dan alami. Lihat sekarang di Karimunjawa, sudah penuh dengan orang-orang seiring dengan semakin terkenalnya Karimunjawa.

Satu lagi, mungkin pemanfaatan kekayaan alam di Bawean untuk pariwisata belum digarap secara maksimal baik akomodasi, transportasi, dan fasilitas. Kalau digarap dengan lebih serius, mungkin bisa menjadi daya tarik yang luar biasa.selain untuk wisata pantai, budaya, alam, atau bahkan snorkling. Tapi misal seuatu ketika Bawean terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan, semoga tetap alami, tetap humble, dan tetap luar biasa.

Yang jelas, terima kasih sekali untuk pengalaman yang luar biasa di Bawean. Terutama untuk Theda, Hety, Wintang, Tidar, Putri, Icha, Lasti, mama Lasti, Irwan, Mas Raffa, dan pastinya oom Rusa

Info Gak penting: saya bangga bisa menjadi orang pertama di departemen saya yang pernah ke Bawean. Bahkan yang asli Gresik pun belum pernah ke sana hehehehe

Oia, ini ada link tulisan saya di detik travel. Salah satu tulisan saya tentang bawean
http://travel.detik.com/read/2012/05/16/135000/1917992/1025/bawean-mutiara-yang-tersembunyi-di-laut-jawa

Selain itu, mungkin tulisan ini akan di publish di rusabawean.com sesuai dengan request dari oom rusa dan hety :)






















Sunday, 19 January 2014

Balada Naik Kendaraan Umum : Bus Eka

Sebagai penglaju yang cukup rajin dari Surabaya-Jogja, saya selalu menggunakan moda transportasi murah meriah favorit sejuta umat penglaju Jogja-Surabaya yaitu Bus Eka untuk pulang dari Surabaya menuju Jogja, dan sebaliknya saya menggunakan Kereta Sancaka Sore dari Jogja ke Surabaya. Saya suka naik bus Eka karena harganya yang terjangkau dan waktunya yang fleksibel.belum lagi bus nya nyaman dan kursinya lebar. jarak kakinya juga lapang untuk orang setinggi dan selebar saya hehehe.. Meski saya ditawari untuk naik armada bus lain, saya mah tidak berpaling hati :D

Di dalambus Eka,Saya sih sudah biasa untuk duduk sebelahan sama siapa aja. mulai dari yang diem, jutek, ramah, suka ngajak ngobrol, sampe yang pelor (nempel langsung molor). Memang saya selalu pulang pakai bus Eka itu pake yang diatas jam 9 malam biar sampe jogja bisa pas subuh. kasihan yang jemput kalo terlalu pagi. lagian saya mengamati kalau pulang naik bus Eka sebelum jam 8, pasti perjalanannya butuh minimal 8 jam karena macet. tapi kalau sudah jam 9 ke atas, bisa 7 jam bahkan 6,5 jam karena volume kendaraan sudah berkurang.

Melihat posisi orang dan gaya orang tidur sih sudah biasa karena saya termasuk orang yang tidak langsung tidur kalau naik bus. saya biasanya masih asyik nonton Running Man dari tablet saya. Nah, dari sini baru muncul cerita-cerita dari orang yang sudah pelor di samping saya.

Salah satu kejadiannya baru kemarin Jumat 17 Januari. Di Bungurasih yang tumben sepi banget, duduklah seorang bapak yang bekerja di daerah Juanda surabaya yang juga pulang setiap minggu ke Jogja. basa-basi sedikit sana-sini dan setelah membayar tiket, si bapak tertidur dengan ransel yang dipangku, sementara saya masih asik nonton di tablet. Tiba-tiba si bapak teh mendadak melebarkan kakinya. saya yang duduk di dekat jendela jadi agak kesempitan, tapi saya cuekin. Nah, dengan posisi gitu, tangan si bapak yang tadinya megang ransel, otomatis terlepas dan berpindah ke atas paha saya. duh, mulai risih ni sama si do'i. Awalnya disenggol-senggol sih bapak nggak kerasa, pas bus goyang-goyang saya ikut mindah tangan si bapak, tapi tetep aja balik ke posisi semula. saya tindih pake tas gendong saya juga gak ngefek. Ya udah, akhirnya tangan si bapak saya jadiin sandaran tab, Lumayan, nggak perlu pegangin hehehe.. posisi tangan bapaknya itu setengah menggenggam gitu. jadi lumayan tinggi.

Setelah beberapa saat agak keganggu, saya mencoba trik pura-pura nggak sengaja bikin bapaknya bangun dengan berbagai macam cara tadi tapi nggak mempan. makin bete lah saya. sempat saya bangunin dan si bapak pindah posisi, tapi setelah itu, posisinya balik ke default lagi. Nah,yang kali ini, posisi tangannya berubah jadi telapak tangannya di paha saya. dan DAMN! dia gerak-gerakin tangannya di atas paha saya dan membuat makin spooky. duh, ini jadi makin absurd gini nih bapak! akhirnya dengan nekat, tas si bapak saya angkat keposisi pangkuannya dan tangannya saya tarik "maaf pak,bisa geser sedikit?"kata saya. si bapak sih langsung bangun, menarik tangannya dan berbalik posisi tidur. dan untungnya, tak berapa lama, mungkin si bapak jengah juga ya, akhirnya dia pindah ke kursi paling belakang dan sebelah saya kosong.

Oke, sesaat sih enak sebelah saya kosong. tahunya sampai di Mojokerto, naiklah seorang mas-mas kurus dengan rambut klimis belah tengah yang menempati kursi di sebelah saya. Saya mikirnya enak lah, nggak terlalu gemuk jadi kursinya agak longgar hehee... Setelah di jalan baru saya ngeh, ini nggak jauh beda ganggunya sama si bapak tadi.

Saya akhirnya tidur dan tahu-tahu terbangun dengan sesuatu yang menyentuh pundak saya berulang-ulang. yak, si mas itu tertidur dengan kepala miring kanan dan bersandar di bahu. yang bikin jengkel itu rambutnya itu loooh, gak nahan bangeeet... gatel banget kena pundak dan kuping. saya sudah pindah posisi, sudah bangunin mas nya, sudah nggeser duduk, tapi kayaknya si mas selalu punya cara untuk menempelkan kepalanya ke saya. Jackpot bener deh perjalanan itu. saya yang mangkel banget karena mas kurus berambut belah tengah dan klimis itu kayaknya punya posisi default yang akhirnya kepalanya kembali lagi ke pundak saya. Herannya lagi, meski sandaran kursi saya tegakkan, si mas itu teteup aja keukeuh dengan tetep tidur nyenyak meski fungsi pundak saya sudah berganti jadi samping kursi yang keras. dan tetep, rambutnya tetep eksis berhasl bikin risih. Nekat kedua malam itu, saya bangunkan masnya dan saya bilang : mas, maaf bisa geser sedikit?" untungnya si mas tanggap, dan akhirnya berbalik arah ke kiridan sepanjang perjalanan saya nggak tahu dan dia sudah ilang aja pas sampai di solo.

Yang terakhir, saya pernah naik bus yang sebelahnya bapak-bapak dan langsung pelor. sialnya, si bapak kayaknya punya perilaku tidur yang dijamin bikin ilfil sebeahnya, ketika tdur, tangan si bapak digunakan untuk menyanggak kepalanya! bisa dibayangkan donk, aroma ketiak yang terbuka lebar di samping saya Mana itu bapak melakukannya ketika terlelap! Perjalanan kali itu saya nobatkan sebagai one of the worst trip I've ever imagine! sepanjang jalan sudah dicoba berbagai macam trik untuk membangunkan si bapak.duileee.. parah pisan euuy... akhirnya setelah usaha selama 2 jam menggoyang si bapak (dan berkali-kali pula posisi tangan si bapak kembali ke posisi membuka ketiak) akhirnya si bapak berpindah posisi dan menurunkan lengannya. okeey, saya jadi ingat baunya ini sebanding dengan ketika sebelah saya mabok darat dan muntah di kantong kresek atau orang saya tiba-tiba meludah di pintu belakang bus yang mana saya pas duduk di bangku belakang sediri.Saya mbatin itu kalau meludah lagi mau tak semprot abis-abisan

Eniwe, apapun kondisinya, sebenernya naik kendaraan umum itu selau menyenangkan. apalagi murah, terjangkau, dan ada 24 jam. Tapi siap-siap aja ya dengan kejutan yang didapat.apapun kejutannya selama kita bayar tiket dengan harga sama, kita punya hak penuh sama kursi kita. Jadi kalau ada orang melewati batas kursi atau membuat tidak nyaman dengan keegoisannya, menurut pengalaman sih lebih baik dibagunkan dan dibilangin baik-baik.kalao mereka marah, semprot balik aja sekalian hehehee... Yang jelas,tetep cinta deh sama bus EKA:D

Thursday, 5 December 2013

Mengurus Paspor Sendiri : Gampang tapi Makan Hati

Travelling keluar negeri itu menyenangkan, apalagi dibayarin hehehe.... tapi menurut saya, untuk sesuatu yang menyenangkan itu tetap ada hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan, dan menurut saya membutuhkan pengorbanan besar adalah mengurus dokumen perjalanan yang disebut dengan PASPOR.

Mengurus paspor itu memang gampang. Tetapi memerlukan kesabaran dan hati yang selebar samudera Hindia menghadapi oknum-oknum yang kurang simpatik. Sebagai kuli penggemar jalan-jalan, ada beberapa masalah ketika saya terpaksa harus mengurus paspor. Pertama adalah waktu mengurus paspor yang mengharuskan saya bolak-balik dari pabrik ke Imigrasi yang jaraknya tidak dekat diantara kesibukan di kantor. Datang pertama untuk menyerahkan berkas, datang kedua untuk foto dan wawancara, datang ketiga untuk pengambilan. Ingat, semua itu dilakukan di hari kerja dan jam kerja. Bisa dibayangkan sulitnya mencari waktu 3 kali ijin dari pabrik setidakya setengah hari tiap pergi. Kenapa tidak online dulu? Imigrasi yang terdekat dengan pabrik belum menggunakan sistem online. Kalaupun online, itu tidak berlaku dan tetap harus mengantri di Imigrasi langsung.

Masalah kedua, saya termasuk orang yang ogah mengeluarkan duit lebih untuk hal yang sebenarnya tidak perlu saya lakukan. Bayangkan, untuk paspor 48 halaman yang seharga Rp 255.000, saya harus membayar 3 kali lipat lebih, meskipun enaknya saya tinggal janjian kapan luang tinggal foto dan wawancara. Sisanya tahu beres, dan paspor sudah di tangan. Tidak ribet, paspor di tangan,majikan senang karena buruhnya nggak kemana-mana hehehe.

Mengingat bulan Maret 2014 saya hendak pergi ke Australia dan harus apply visa, saya berniat dan membulatkan tekad untuk mengurus paspor sendiri, daripada saya harus bayar mahal-mahal. Dan, memang, kesabaran dan kebesaran hati mutlak diperlukan ketika mengurus paspor sendiri.

Kamis, 28 November 2013, kebetulan bos-bos pada pergi dan akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang paspor saya yang expirednya masih 1 Desember 2014. Sebenarnya keinginan memperpanjang paspor ini berawal dari ketakutan saya kalau visa Australianya ditolak karena masa berlaku paspor kurang dari 1 tahun. Padahal menurut informasi, paling tidak diatas 6 bulan. Yasudah, daripada ragu-ragu, lebih baik saya ganti alamat paspor. Berangkatlah saya naik Pitjul ke Imigrasi tersebut. Sampai di sana sekitar pukul 10.00. Saya melihat, tidak terlalu ramai. Saya masuk dan tanya ke satpam prosedur mengurus paspor di Imigrasi itu. Pak satpam hanya menjawab : “Wah mas, sudah tutup. Tuh, petugasnya sudah nggak ada” katanya sambil menunuk meja informasi dengan tulisan ‘TUTUP’. “Kalau mau mas bisa beli formulir di koperasi dulu” . Dilihat dari jam kerja, penyerahan berkas berakhir pukul 11.00 tapi kok jam 10 sudah tutup. Okelah, saya turuti untuk beli blangko dan fotokopi persyaratan. Setelah saya isi, saya kembali ke depan dan mencari petugas untu ditanyai.dan tidak ada satupun petugas yang tampak. Saya menuju meja resepsionis dan muncullah ibu-ibu judes: “Mas,sudah tutup!” sambil membentak. Saya balik bertanya “Lalu saya harus bagaimana bu?  Saya ingin tahu prosedurnya”. Dengan masih ngomel, menggerutu, muka judes si ibu menjawab “Dibilang sudah tutup ya sudah tutup!” . “Lalu saya harus bagaimana? Saya kan tanya bu, saya harus bagaimana”. Dan akhirnya dengan decakan keras dari si ibu dan rentetan omelan, “Ah, sudah, sini, saya kasih nomer saja. Sudah dibilang tutup dari tadi kok! Ini dibatesin mas, per hari 100. Jadi tidak menumpuk!” katanya sambil menjepret nomer antrian 80 di map berkas saya. Ya, 80! Masih 80 orang dan dia bilang sudah penuh? Oke, saya biarkan saja, meski saya sudah dongkol setengah mati. Akhirnya tak berapa lama nomer saya dipanggil. Setelah dipanggil,  saya tidak bisa perpanjangan paspor karena expirednya yang masih lebih dari 6 bulan. Saya yang berpikir bisa perpanjangan hari itu juga, akhirnya kecewa terpaksa pulang dan LUPA kalau saya harus mengganti alamat paspor dari alamat Jogja ke Gresik. Ya, saya lupa, salah satunya karena saya sudah emosi duluan dengan ibu-ibu judes yang di depan tadi.

Sampai di kosan,saya langsungmenyesal,kenapa nggak tadi diurus sekalian, dan terpaksa deh saya mengulang proses yang sama untuk ke imigrasi lagi. Akhirnya dengan membulatkan tekad yang kuat untuk kedua kalinya, saya kembali ke imigrasi untuk mengurus penggantian alamat paspor. Tanggal 4 Desember 2013 datanglah saya kesana jam 7.15 dimana pintu gerbang masih ditutup dan karyawan belum banyak yang datang. Ya, karena apel pagi baru dimulai jam 7.15 dan jam kerja pukul 8. Setelah apel, saya buru-buru masuk untuk mengumpulkan berkas dan kelengkapan. Di meja depan, ada satpam yang mengumpulkan berkas. Saya yang datang paling pagi langsung mengumpulkan dan diletakkan di bawah sendiri. “Pak, ini urutannya bagaimana? Saya kan paling bawah, itu yang pertama apa bagaimana?” tanya saya ke pak satpam. “Ooh, tenang pak, saya kan yang menumpuk. Pasti urut dari bawah. Tenang saja” kata pak satpam.

Setelah jam 8, tumpukan berkas dimasukkan ke di meja resepsionis untuk diberi nomor urutan. Dan sayangnya yang ke sana adalah si Ibu Judes dan satu temannya yang masih lebih muda tapi tidak kalah Juteknya. Daaaan... dengan kasarnya mereka mengambil dengan asal tumpukan itu. Saya mulai was was kalau tidak dapat urutan awal mendekati mereka, ”Bu, ini urut numpuknya lho, yang paling bawah yang paling pagi”. Dengan ketus dan menyebakan si judes berkata, “Bapak duduk aja sana, jangan banyak tanya. Nanti nggak selesai-selesai kalau ditanya- tanya melulu”. DAMN! Ini pelayanan macam apa!? Dan setiap kali si Judes selalu berkata kepada orang yang berdiri di dekatnya menunggu berkasnya “Pak, Bu, duduk aja sana, jangan berdiri aja di situ. Sana, cari kursi”. Mendadak saya ingat, kalau memperpanjang paspor dan mengganti alamat paspor kan prosedurnya beda. Baliklah saya ke ibu yang tadi, “Bu, saya mau tanya, apakah prosedur penggantian alamat paspor sama dengan mengurus baru”Dijawab lagi sama si Judes”Pak, bapak duduk saja deh, nggak akan kelewatan kok. Prosedurnya ya sama lah. Coba bapak duduk dulu aja, nanti dipanggil!” Oke, kali ini saya memilih menjauh dari semburan hujan lokal yang memuakkan itu. Dan saya yang datang paling pagi dapat nomer 51! Bahkan orang yang baru datang dan menumpuk berkas justru dapat urutan kecil.

Sepanjang saya mengamati, saya makin mangkel dan terbesit pikiran kayaknya si Judes ini belom pernah makan sandal jepit pake beling dan ditampar pake tabung gas 3 kg. Setiap ada orang yang mendekat membawa map aplikasi berkas selalu saja diterima dengan tidak simpatik. Di mejanya sih memang tertulis pusat pengaduan, tapi kalau orangnya kayak gitu, mana ada yang mau ngadu adanya juga pengen ngeroyok si Judes itu. Ada bapak dan ibu setengah bawa membawa aplikasi dalam map berwarna biru muda yang saya akhirnya tahu itu adalah map berkas imigrasi tapi versi lama. Sampai di depan si Judes, justru si bapak dibentak, “ Pak, ini map siapa yang minta? Bapak beli dulu deh di belakang sana di koperasi. Map nya itu harus seragam Bapaaaaaak” katanya dengan “a” panjang yang sangat menyebalkan. Si Bapak akhirnya kembali dari koperasi dan menukar berkasnya ke dalam map baru. Eh, si Judes komentar lagi “Paaaaaaaaak, ini kok nggak ditulisin map nya? Ditulis dulu siniiiiiiiii!” katanya sambil menunjuk-nunjuk map Bapak itu. Saya Cuma bisa diam. Kalau nggak ingat lagi butuh penggantian alamat paspor, rasanya pengen adu mulut deh sama si Judes.

Semakin diamati, si Judes nggak juga tobat. Omelan dan celetukan macam “Ini kok belom diisi?dilengkapi dulu sana!” atau Buuuuuu, ini aslinya kok disini. Bawa aja! Kalau ilang siapa yang tanggung jawab? Saya yang harus tanggung jawab!?” katanya sambil menunjuk-nujuk dokumen aslinya. Kalau dia nggak pake seragam, mungkin saya berpikirada orang nggak waras lagi nongkrong di situ. Tambah lagi, jam setengah 9, setengah jam si judes memaki-maki banyak orang, bagian pengaduan tersebut “TUTUP”. Dan si judes 1 dan dingin 2 pergi dari situ dengan membawa tas. Entah kemana...

Setelah mengantri, giliran saya dipanggil. Karena saya kemarin sudah diverifikasi, saya menyampaikan kalau hanya ingin ganti alamat. Untung petugas loketnya baik-baik. Dan, jawabannya sungguh mengejutkan “Pak, kalau ganti alamat, langsung saja ke loket sebelah. Nggak perlu foto dan wawancara”. WHAT!? Jadi dari tadi saya harusnya bisa langsung? Dasar Judes! Pengen tak jambak-jambak tenan! Saya tanya ke mbak loket yang baik itu, kalau pasor saya jadi, apakah bisa diambil oleh orang tua? Kata mbak baik itu sih bisa, asal orang tua kandung.

Di loket sebelah, Paspor saya dijanjikan selesai dalam waktu 4 hari. Bisa diambil jam 1 siang. Ketika saya konfirmasi lagi apakah bisa diambil oleh bapak saya, Si bapak dengan (sok) wibawanya “Wah, tidak bisa pak, ini dokumen negara. Berbahaya kalau diambil orang lain”. Lah, kata loket sebelah boleh. Saya bilang seperti itu ke si bapak, malah saya disuruh memastikan ke mbak mbak di loket sebelah. Dan ternyata memang bisa. Nah justru di situ mereka berdebat sendiri. Yang satu bilang boleh yang satu bilang tidak boleh. Mbak baik keukeuh “Bisa diambil orang tuanya kok pak”. Si Bapak membalas “Lha gimana kita tahu kalau yang ngambil orang tuanya?” . Duh jan, mereka aja nggak standar gitu prosedurnya. Mau menunjukkan kalau yang ambil itu bapak saya? Kan ada Kartu keluarga saya, ada akta, ada ijazah, ada tes DNA, kalau perlu saya bawa bidan yang dulu ngelahirin saya deh!

Sekarang saya lagi deg-deg-an muga-muga besok gampang deh ambil paspornya. Tapi setidaknya buat yang mau mengurus paspor sendiri, siapkanlah waktu dan hati anda selebar samudera untuk menghadapi orang-rang macam itu. Pelajaran lain, saya mending ke imigrasi satunya daripada imigrasi ini. Meski lebih jauh dari pabrik, di sana bisa online dan katanya peayanannya jauh lebih ramah. Alternatif terakhir, daripada mood dan kerjaan saya berantakan gara-gara Si Judes, mendingan pake calo deh. Mau berantas calo di Imigrasi? Harusnya kanit imigrasi NGACA dulu! Kenapa orang lebih milih pake calo dan agen daripada ngurus sendiri. La wong beberapa oknumnya diajak ngomong bahasa manusia aja nggak bisa.... Maju terus birokrasi Indonesia!


Selamat berjuang kawan! :D


*2 minggu kemudian saya kembali keImigrasi dan mendapati si ibu judes masih idup aja. Setelah saya mengantri dan menyebutkan no paspor, mereka bilang berkasnya masih dicari.LAH!? saa udah khawatir kemana paspor saya.Setlah 3 jam menunggu, paspor saya ditemukan dan BELUM DIGANTI ALAMATNYA! langsung sama petugasnya disusulkan, dan untungnya prosesnya tidak terlalu lama. terpampang sudah print alamat baru rumah saya. whew, hanya menambahkan seperti itu tapi makan ati... Dan si U-60, Paspor Hijau saya itu sekarang sedang dalam perjalanan menuju jakarta. Bawa kabar baik yaaaak, bawa itu visa Ausie ke tangankuuuh :D

Monday, 16 September 2013

Weekend Escape : Menjangan Island

Sejak dari kecil, kayaknya yang namanya "tidak betah di rumah kalau sedang liburan" sudah benar-benar melekat. rasanya kalau pas liburan diem aja di rumah rasanya hidup jadi kurang afdol. entah keluar sebentar atau cuma beli detergen di warung sepan rumah, pokoknya kalau liburan itu nggak lengkap tanpa keluar rumah.

Kebiasaan itu terbawa deh sampe udah mulai tua. rasanya kalau wiken hanya ngendon di kamar, curiga tau-tahu hari senen ada telor ayam yang netes jadi ayam. Makanya saya terkadang ngabur tanpa perencanaan yang jelas pada waktu wiken.

Saya beberapa kali bepergian hampir selalu melakukan perencanaan yang matang. dari sini ke sini naik ini, dari sana ke sana pake itu. habis gini, terus gitu, mau gini kudu lewat sini biar ngirit dan hal-hal yang seperti itu. Nah, saya mendadak kepengen berlibur, sendiri, nggak kenal siapa-siapa dan nggak berencana mau ke mana. ternyata spontanitas itu terkadang lebih seru.

Berbekal browsing-browsing singkat mengenai liburan di jawa timur, akhirnya saya terpikat dengan Pulau Menjangan, mengingat aksesnya sulit-sulit gampang, dan yang jelas dari gambaran si google, kayaknya sih bagus.

Browsing rabu malam, akhirnya keesokan sorenya saya sudah mengantongi tiket kereta api menuju Banyuwangi untuk hari Jumat malam. saya merasa semangat mengingat ini perjalanan saya yang benar-benar tanpa rencana. tidak tahu mau ngapain, naik apa, ketemu siapa, ke mana, dan sebagainya.

Matahari Terbit di Selat Bali
Hari jumat malam, Kereta Mutiara Timur yang membawa saya datang. saya duduk di kursi saya, dan tahu-tahu datanglah seorang bapak,membawa 2 ekor ayam di dalam keranjang! ealah... untung si mbak dan mas poluska tampaknya cukup sigap untuk menyuruh si ayam naik di kereta makan saja. mana si bapak ngotot pula.... untunglah, dengan sedkit paksaan, akhirnya tu bapak rela melepaskan ayamnya ditaruh di kereta makan.

saya pikir bakalan tidur nyenyak di kereta yang adem itu. ternyata, boro-boro tidur nyenyak, di setiap stasiun  dimana kereta berhenti, terdengar suara bel seperti isyarat kereta mau brangkat di dalam gerbong. suara kencangnya bel itu ditambah dengan pemberitahuan yang gak kalah kencengnya dari si kondektur, membuyarkan angan saya untuk tidur nyenyak di dalam kereta.

Matahari belum muncul ketika saya menjejak Banyuwangi. berjalan kakilah saya di tengah pagi buta utuk naik kapal feri yang akan membawa saya menuju pelabuhan gilimanuk. Sesampainya di Gilimanuk, saya menuju ke terminal gilimanuk, dimana terdapat angkutan umum Gilimanuk-Singaraja berwarna merah yang akan membawa saya menuju Labuan Lalang, titik penyebrangan menuju Pulau Menjangan. ongkosnya tidak mahal, hanya 10 ribu saja.
Jalan Menuju Labuhan Lalang dari Gilimanuk


Starting Point
Sampai di Labuan Lalang, ternyata hanya setengah jam dari pelabuhan dan masih sangat sepi. Ketika saya mengutarakan sama Bli Komang (salah satu guide di sana) ternyata untuk solo traveler seperti saya lebih baik menunggu rombongan para bule yang mau snorkling. kalau saya mau sewa kapal, peralatan snorkling, dan guide, saya dikenai 350 ribu. buset dah, mendingan nungguin share. lagian kalo saya pergi ke sana sendirian kan aneh. Akhirnya setelah 2 jam menunggu, datanglah rombongan bule yang mau snorkling dan diving. saya dikenai 200 ribu untuk menyebrang dan menyewa peralatan snorkling. okelah, saya rasa itu harga yang pantas daripada saya jauh-jauh ke Labuan Lalang cuma buat nonton mereka jalan ke pulau menjangan. lagipula harga itu sudah mencakup guide, kapal, dan peralatan snorkling. tapi belum makan siang. untungnya saya bawa roti sama air mineral gede. lumayan lah, buat mengganjal ntar.

Labuan Lalang
Berangkatlah saya bersama 10 bule. catatan yah, dari sebanyak itu pengunjung pulau menjangan yang mau snorkling, hanya saya orang lokalnya selain dari pemandunya sendiri. saya bahkan dikira bukan orang Indonesia. pikir mereka orang Kenya kali ya. akhirnya saya berkenalan dengan salah seorang mbak-mbak di depan saya. Meirine (itu sih yang saya denger) asalnya dari jerman, dan juga Alex dan Pitier, 2 orang pria asal Belanda  (yang pada akhirnya saya tahu bahwa mereka adalah pasangan gay yang habis menikah di Belanda dan berbulan madu di Bali).

Untungnya Meirine itu sendirian juga karena suaminya ikut diving dan dia memilih snorkling. jadinya sih saya sama tu dua orang Belanda renangnya deket-deketan. dan wow bener deh namanya snorkling di pulau menjangan itu bener-bener luar biasa. pertama kali nyemplung dari kapal, saya bingung, ini mata saya yang rabun (sebenernya memang rabun) atau dasar lautnya nggak keliatan.ternyata di bawah saya adalah palung yangbener-bener dalem sampe matahari aja nggak nembus ke dasarnya. wooooww.. sampe deg-degan berenang di situ. bayangin aja, landscape pantai-karang landai-dan akhirnya langsung palung itu bikin yang nggak biasa snorkling atau berenang pasti akan kaget.

Tapi pengalaman snorkling di sini benar-benar luar biasa. karang dan tanaman lautnya masih subur, ikan warna-warni, geromlolan ikan yang lewat di bawah kita dengan santainya, bintang laut biru yang bertebaran di mana-mana... bener-bener suatu pemandangan yang luar biasa!

Setelah kurang lebih satu jam, kapal menjemput kami dan saatnya makan siang. saa makan roti, sementara itu bule-bule disediain minuman dingin sama makanan dalam box *kriuuuk*.. ada sesi istirahat selama 1 jam. bagi yang ingin makan di pulau dipersilahkan. tapi karena saya terkapar gara-gara gerbong kereta yang berisik itu, akhirnya saya memilih utuk beristirahat di kapal.

Setelah sesi istirahat, kami meneruskan snorkling di spot yang kedua. letaknya di depan pura yang ada patung ganesha raksasa. rasanya eksotik banget dan wah banget. ada pura di pinggir pantai, sementara kita snorkling di bawahnya sambil menikmati alam bawah laut. Si turis Prancis yang satu kapal sama saya sempet menangkap ikan gendut jinak warna ungu dan kita sempet foto-fot pake kamera bawah air sama tu ikan.

Akhirnya batas untuk mengunjungi Taman Nasional Bali Barat selama 4 jam sudah habis. Kami harus kembali merapat ke Labuan Lalang diiringi dengan ombak yang mulai meninggi. Dijamin deh bagi yang mabuk laut, bisa pingsan saking stressnya karena ombaknya gedhe banget. Merapat di pulau bali, para bule kembali ke habitat masing-masing atau menuju detinasi selanjutnya. lah, saya? saya yang masih bingung, akhirnya memutskan untuk menuju Papuma, Jember (yang akhirnya hanya rencana karena kecapekan).

Pulau Menjangan adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi bagi penggemar wisata laut dan bawah laut. Apalagi, karena masih sulit dijangkau, dan banyaknya orang yang belum ke sana membuat Pulau Menjangan masih sangat terjaga dan masih sangat cantik. Lumayanlah buat destinasi ngabur wiken atau destinasi kalau sedang galau....

Yang jelas, makin cinta sama alam Indonesia deh, setelah mengunjungi Pulau Menjangan. Bule-bule yang dari jauh aja pada dateng, masa yang orang Indonesia sendiri malah belum ke sana? :D

Monday, 26 August 2013

SIAP, LAKSANAKAN PERINTAH!

Suatu ketika saya melakukan rekrutmen di Jogja. Pengalaman rekrut sih mugkin sudah biasa,tetapi yang menjadi menyenangkan adalah ini pertama kalinya saya naik pesawat baling-baing ATR dengan ketinggian jelajah yang tidak terlalu tinggi sehingga pemandangan di luar lebih kelihatan. Ya, setidaknya saya terpaksa membayar kelebihan bagasi sih, karena jatah bagasi untuk penumpang hanya 15 kg dan saya harus membawa macam-macam peralatan rekrut sampai ke spanduk dan umbul-umbul.

Waktu itu atasan saya meminta saya membawa bendera produk-produk perusahaan kami sebagai media promosi dan menyemarakkan lokasi tes. Ketika tes berlangsung, saya diminta atasan saya untuk menurunkan dan melipat bendera-bendera itu segera karena akan di bawa ke Semarang esok harinya. Saya mengiyakan, namun tidak langsung melaksanakannya. Ternyata tiba-tiba, tanpa mendung, turunlah hujan deras badai. Alhasil bendera-bendera itu basah kuyup. Di bawah tatapan tajam bos, “Sekarang bagaimanapun caranya, bendera-bendera ini kering ketika di Semarang besok”. Alhasil, sesorean, sampe malam, saya tidak sempat beristirahat, karena sibuk menari dan menunggui bendera-bendera tersebut di keringkan di Laundry.....


 
Moral of the story : kalau sudah diperintahkan segera dijalankan. Jangan ditunda tunda yak :D