Showing posts with label Visa. Show all posts
Showing posts with label Visa. Show all posts

Saturday, 28 March 2015

Berbagi Pengalaman Mengurus Visa UK : Susah sih enggak, paling cuma ribet dikit.

Kalau soal bagaimana cara mengurus visa sih kayaknya sudah banyak di Internet. Tulisan lebih banyak kepada sharing pengalaman saya ketika mengurus Visa ke Inggris. setiap orang pasti punya pengalaman yang berbeda ketika mengurus visa. tapi saya pengen banget deh pengalaman saya bisa membantu buat travelers yang mau jalan-jalan ke Inggris

Telepon mendadak dari tante saya pada awal Januari awal membuat saya sampai speechless... Gimana enggak, saya diajakin ke London! Wah, dream come true! Akhirnya kesempatan ke Eropa datang juga. Kebetulan ada saudara saya yang juga kerja di London dan siap menampung segala akomodasi dan transportasi. Wuszzz.... makin hepi hahahahaha....

Akhirnya seperti yang sudah banyak dituliskan di dalam blog lain, tentu saja saya harus mempersiapkan VISA. Sebagai pemegang paspor ijo, tentu saja masuk ke Inggris harus menggunakan Visa. Visa inggris sendiri tidak termasuk dalam visa Schengen. jadi memang harus benar-benar mengurus sendiri.

Untunglah saya bepergian sama tante saya. Dalam pengurusan ini Tante saya menyerahkan sepenuhnya kepada agen untuk membantu pembuatan visa. Tugas Si Agen ini adalah ngumpulin berkas-berkas, lalu memverifikasi berkas-berkas, baru kemudian kalau sudah dirasa lengkap dan sesuai sama yang diminta oleh pihak VFS (pihak ketiga kedutaan Inggris untuk pengurusan Visa). Berkas-berkas yang diperlukan pastinya sudah sangat jelas dituliskan oleh pihak kedutaan. Nah disini yang mau saya share ada beberapa dokumen yang dirasa bisa mendukung visa kita diterima:

1. Karena saya bepergian dan ditanggung sama saudara saya di London, doski mengirimkan permanent resident, dan juga surat undangan yang menyatakan bahwa dia menjamin semua akomodasi selama di London.
2. Karena saya ditanggung sama suaminya tante (oom) jadi saya melampirkan juga akta kelahiran bapak saya yang menyatakan bahwa nama orang tuanya (kakek) saya sam dengan tante saya. Nanti dilengkapi dengan akta nikah oom-tante saya yang menyatakan bahwa mereka suami istri dan si oom ini yang membiayai saya di sana...pfffttt...
3. Rekening tabungan harus berapa? saya sendiri jadi mikir-mikir. tante saya ngajakinnya mefet banget jadinya rekening saya yinggal 300 ribu! ya jujur aja waktu itu lagi nggak punya duit deh. lagi disebar kemana-mana. akhirnya dengan kekuatan bulan saya kumpulin deh itu duit dari mana-mana hingga terkumpul 40 juta. saya pikir mah `karena dibayarin sama oom tante dan dijamin maka beres deh. lagian saya perginya rombongan ini.

Setelah terkumpul semua berkas dan dirasa cukup sama si agen travel,dia bikin janji sama VFS. buat yang tinggal di luar kota siap-siap aja ya menyiapkan duit tambahan dan cuti tambahan buat cap jempol dan foto visa yang hanya bisa dilakukan di VFS Kuningan city. karena saya dari desa Gresik, mau nggak mau harus ke jakarta senin pagi dan pulang sorenya. gilaaa... tajir amat yak.

Di VFS kita cuma disuruh nunggu, tandatangan berkas, cap jari, dan foto. di dalam cuma ditanyain nama sama tanggal lahir. beuh, cuma digituin aja sampe gemeteran banget. sekarang sudah nggak pake proses wawancara buat bikin visa. di Indonesia sendiri cuma mengumpulkan berkas kemudian berkasnya dibawa ke Manila. Prosesnya sekitar 2-3 Minggu. kalau lagi low season ya 2 minggu jadi.

Haduh, selama nunggu itu dag dig dug banget. Mengajukan visanya tanggal 10 Februari dan kemudian tanggal 23 Februari di email sama Manila kalau sudah ada keputusan tentang aplikasi visa. tapi nunggu dari travel agent yang ngabari. Walah, makin nggak bisa tidur saya.... udah dinanti banget. Akhirnya datanglah kabar dari Travel Agent saya bahwa visa saya....

DITOLAK


DITOLAK......


DITOLAK.........................

Saya sampe shock banget. kok bisa ditolak. kurang yahud apa sih saya pergi sama keluarga lenong. saya bener nggak ngira bahwa visa saya bakalan ditolak! Wadaaaw...... 

Tapi bagusnya (tetep ya orang jawa masih ada bagusnya di tengah kesusahan) pihak Visa sendiri menguirimkan tulisan kenapa aplikasi saya ditolak. Dan lebih oke lagi, semua tulisannya dirinci. Jadi kira-kira begini surat cintanya :

1. Kamu ditolak karena belum bisa menunjukkan kamu pernah kemana-mana
2.Kamu ditolak karena tidak mempunyai hubungan dengan indonesia (Byuh, alasan yang sama ketika saya ditolak Australia)
3. Kamu ditolak karena kondisi keuanganmu kok meragukan.
.
Nah, di bawahnya ada rinciannya :

1. Soal belum pernah kemana-mana
Kamu menyebutkan memang banyak sekali negara yang kamu kunjungi seperti yang tertera di paspor dan cap kamu. ada beberapa negara dengan visa yang telah kamu lampirkan (Dubai, Hongkong, Shenzen). Tapi menurut kami kamu belom pernah kemana-mana sehingga kredibilitasmu diragukan.

Nah, saya nggak ngerti apakah ini maksudnya harus punya visa lain seperti ostrali, jepang atau korea kah sebelum bisa ke Inggris? saya juga tidak tahu, agent visa juga nggak ngerti.

2. Soal Hubungan Kuat dengan Indonesia
Kami tidak melihat kamu punya hubungan kuat dengan Indonesia. kami ragu kamu bakalan pulang karena kami tidak melihat ada hal-hal yang bisa memaksamu untuk pulang. Meski kamu melampirkan tiket pulang-pergi (dan sudah di issued ya) kami nggak yakin kalau kamu bakalan pulang.

Setelah dipelajari sama travel agent, mungkin karena saya belum menikah, jadi dianggap masih mungkin kabur karena nggak punya anak di Indo. saya diminta untuk menambahkan Akta kelahiran bapak, KTP bapak, surat pernyataan dari Bapak yang menyatakan saya bakalan liburan aja nggak bakal nikah di sana dan bakalan pulang, dan kemudian ini penting : surat sponsor dari kantor ditambahi kata-ata "for holiday purpose". emang sih di surat kantor disebutkan saya mau ke sana dan bakalan pulang. tapi ternyata kurang kata-kata "for holiday purpose" doank cobaaaa....

3. Soal Duit
Kami sampaikan dulu bahwa di Inggris, biaya idup nya selama 2 minggu adalah sekitar 1200-2000 pondsterling. nah di rekening koran yang dicantumkan, pernah mencapai angka 300 ribu ya (20 pondsterling) dan itu bakalan kurang banget. bener sih saudaramu bakal menangung semuanya, tapi kami melihat dari jumlah gaji yang kamu lampirkan, rasanya kok sulit dapat uang segitu banyaknya di rekening. kalau memang perlu, coba deh lampirkan segala hal yang kamu punya.

WHAAAT!!! ini malu-maluin deh. ya kan ane nggak siap kalau disuruh ke London menadadak jadi ngga nyiapain tabungan. dulu ke Ostrali aja masih ditata banget biar stabil diatas 40 juta aja ditolak. trus ternyata, di tempat saya gajian kan sebulan 12 kali, cuma mereka kan nggak ngerti ada bonus dan sebagainya yang membuat saya punya duit segitu *hvft*. Tapi kan saya nggak bisa membuktikan kalau nggak wawancara. Tapi jangan salah, sepupu saya yang tajir melintir justru malah ditolak karena dia mau pergi sekeluarga, duitnya banyak trus mau kerja dan jadi imigran gelap. haduuuuhhhhh....

Mau nggak mau, akhirnya diulanglah proses pengajuan visa.

Jadi dokumen yang ditambahkan adalah :
1. KTP bapak, 
2. Surat resmi dari kantor oom saya di Indonesia yang akan menanggung semua keperluan saya
3. Rekening tabungan bapak 3 bulan terkahir
4. Surat pernyataan dari bapak kalau saya cuma liburan, bakal pulang, nggak cari cewek sana, dan bapak menjamin ahwa rekening tabungannya juga bisa mengcover selama saya di sana.
5. Surat dari kantor (minta lagi sama manger) dengan nambahin kata "for holiday purpose"
6. Surat pajak Tahunan, distabilo bagian penerimaan tahunan. tuh liat tuh, gue juga punya duit!
7. BPKB Mobil 
8. Sertifikat Rumah yang meguatkan bahwa saya masih punya utang rumah hahaa.... tentu saja sertifikat dan bpkb mobil atas nama sendiri ya.
9. Kartu keluarga yang menyatakan bahwa saya anaknya bapak, akta kelahiran bapak yang menyatakan bahwa bapak dan tante itu kakak adik, dan surat nikah tante dan oom yang menyatakan bahwa si penanggung alias oom punya hubungan darah sama saya. buset....
10. Saya disumbang kekuatan bulan sehingga rekening saya jadi 100 juta. 

Oiya, saya lupa menyebutkan di awal, bahwa semua dokumen yang dilampirak harus diterjemahkan oleh sworn translator (penerjemah tersumpah) yang ditunjuk oleh kedutaan. per lembar harganya 150 ribu lho ya....

Nah setelah saya lengkapi dan kemudian saya datang lagi ke jakarta. pp sehari berangkat pulang. Udah habis duluan nih duit buat jajan di London *miris*... Saya ajukan aplikasi tepat tanggal 10 maret 2015. saya membayangkan betapa mefetnya proses ini karena saya berangkat tanggal 28. 

Di tanggal 20 Maret, email perusahaan menerima email konfirmasi dari Manila untuk manager saya. pertanyaannya :
1. Bener nggak saya ini karyawan tetap?
2. Saya kalau cuti tetep digaji nggak?
3. Berapa sebenernya gaji sebulannya dia?

Dan dibalas oleh manager saya (yang tentu saja saya yang jawab)
1. Ya dia beneran karyawan tetap. posisinya senior supervisor.
2. Dia cuti tetep digaji kok.
3. Dia dapet X juta rupiah setiap bulan. tapi tak kasih tahu ya, perusahaan kami itu ada kebijakan bonus sehingga pendapatannya minimal 24 gaji setahun. bahkan trand nya 30 gaji setahun. Saya bikin apa adanya plus disombongin dikit deh biar nggak dipandang sebelah mata hahahaha.... sombong biarin daripada ditolak lagi gegara dianggap nggak mampu membiayai. 

Tanggal 24 Maret siang saya di email lagi dari manila mengenai visa saya yang sudah selesai diproses. saya udah nggak konsen lagi di kantor, deg-degan., telpon mulu sama travel agent yang mungkin sampe eneg ndengerin saya... dan akhirnya 2 hari sebelum berangkat....

GRANTED! Alhamdulillah, akhirnya visa saya diterimaaaa. LONDON I'm Comiiiiiiing!!!!!

FYI, untuk saya sendiri, tante saya menggunakan layanan visa Premium yang jadinya bisa lebih cepat. biayanya? 9 Juta untuk pengurusan saya sendiri!. Namun itu juga tidak menjamin visanya keluar. jangankan tahu keluar apa enggak, tanya-tanya gimana hasilnya, kemungkinan, dsb aja nggak bisa. memang sih dalam pengurusan Visa, diakui atau tidak keputusannya hanya Tuhan dan orang kedutaan yang tahu.

Ya, tulisan saya disini dibuat bukan untuk membuat kecut niatan orang mau ke London, tapi buat jaga-jaga aja daripada udah sayang bayar visa, udah jauh-jauh ke jakarta, tapi visanya ditolak. So, siapkan hati yang lapang, dan diakui atau tidak biaya-biaya tak terduga lainnya ya.

Selamat Berjuaaaang :)

Tulisan Dibuat di BNI lounge
28 Maret 2015 16.30
Menjelang keberangkatan Ke London pukul 23.30.

Thursday, 5 December 2013

Mengurus Paspor Sendiri : Gampang tapi Makan Hati

Travelling keluar negeri itu menyenangkan, apalagi dibayarin hehehe.... tapi menurut saya, untuk sesuatu yang menyenangkan itu tetap ada hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan, dan menurut saya membutuhkan pengorbanan besar adalah mengurus dokumen perjalanan yang disebut dengan PASPOR.

Mengurus paspor itu memang gampang. Tetapi memerlukan kesabaran dan hati yang selebar samudera Hindia menghadapi oknum-oknum yang kurang simpatik. Sebagai kuli penggemar jalan-jalan, ada beberapa masalah ketika saya terpaksa harus mengurus paspor. Pertama adalah waktu mengurus paspor yang mengharuskan saya bolak-balik dari pabrik ke Imigrasi yang jaraknya tidak dekat diantara kesibukan di kantor. Datang pertama untuk menyerahkan berkas, datang kedua untuk foto dan wawancara, datang ketiga untuk pengambilan. Ingat, semua itu dilakukan di hari kerja dan jam kerja. Bisa dibayangkan sulitnya mencari waktu 3 kali ijin dari pabrik setidakya setengah hari tiap pergi. Kenapa tidak online dulu? Imigrasi yang terdekat dengan pabrik belum menggunakan sistem online. Kalaupun online, itu tidak berlaku dan tetap harus mengantri di Imigrasi langsung.

Masalah kedua, saya termasuk orang yang ogah mengeluarkan duit lebih untuk hal yang sebenarnya tidak perlu saya lakukan. Bayangkan, untuk paspor 48 halaman yang seharga Rp 255.000, saya harus membayar 3 kali lipat lebih, meskipun enaknya saya tinggal janjian kapan luang tinggal foto dan wawancara. Sisanya tahu beres, dan paspor sudah di tangan. Tidak ribet, paspor di tangan,majikan senang karena buruhnya nggak kemana-mana hehehe.

Mengingat bulan Maret 2014 saya hendak pergi ke Australia dan harus apply visa, saya berniat dan membulatkan tekad untuk mengurus paspor sendiri, daripada saya harus bayar mahal-mahal. Dan, memang, kesabaran dan kebesaran hati mutlak diperlukan ketika mengurus paspor sendiri.

Kamis, 28 November 2013, kebetulan bos-bos pada pergi dan akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang paspor saya yang expirednya masih 1 Desember 2014. Sebenarnya keinginan memperpanjang paspor ini berawal dari ketakutan saya kalau visa Australianya ditolak karena masa berlaku paspor kurang dari 1 tahun. Padahal menurut informasi, paling tidak diatas 6 bulan. Yasudah, daripada ragu-ragu, lebih baik saya ganti alamat paspor. Berangkatlah saya naik Pitjul ke Imigrasi tersebut. Sampai di sana sekitar pukul 10.00. Saya melihat, tidak terlalu ramai. Saya masuk dan tanya ke satpam prosedur mengurus paspor di Imigrasi itu. Pak satpam hanya menjawab : “Wah mas, sudah tutup. Tuh, petugasnya sudah nggak ada” katanya sambil menunuk meja informasi dengan tulisan ‘TUTUP’. “Kalau mau mas bisa beli formulir di koperasi dulu” . Dilihat dari jam kerja, penyerahan berkas berakhir pukul 11.00 tapi kok jam 10 sudah tutup. Okelah, saya turuti untuk beli blangko dan fotokopi persyaratan. Setelah saya isi, saya kembali ke depan dan mencari petugas untu ditanyai.dan tidak ada satupun petugas yang tampak. Saya menuju meja resepsionis dan muncullah ibu-ibu judes: “Mas,sudah tutup!” sambil membentak. Saya balik bertanya “Lalu saya harus bagaimana bu?  Saya ingin tahu prosedurnya”. Dengan masih ngomel, menggerutu, muka judes si ibu menjawab “Dibilang sudah tutup ya sudah tutup!” . “Lalu saya harus bagaimana? Saya kan tanya bu, saya harus bagaimana”. Dan akhirnya dengan decakan keras dari si ibu dan rentetan omelan, “Ah, sudah, sini, saya kasih nomer saja. Sudah dibilang tutup dari tadi kok! Ini dibatesin mas, per hari 100. Jadi tidak menumpuk!” katanya sambil menjepret nomer antrian 80 di map berkas saya. Ya, 80! Masih 80 orang dan dia bilang sudah penuh? Oke, saya biarkan saja, meski saya sudah dongkol setengah mati. Akhirnya tak berapa lama nomer saya dipanggil. Setelah dipanggil,  saya tidak bisa perpanjangan paspor karena expirednya yang masih lebih dari 6 bulan. Saya yang berpikir bisa perpanjangan hari itu juga, akhirnya kecewa terpaksa pulang dan LUPA kalau saya harus mengganti alamat paspor dari alamat Jogja ke Gresik. Ya, saya lupa, salah satunya karena saya sudah emosi duluan dengan ibu-ibu judes yang di depan tadi.

Sampai di kosan,saya langsungmenyesal,kenapa nggak tadi diurus sekalian, dan terpaksa deh saya mengulang proses yang sama untuk ke imigrasi lagi. Akhirnya dengan membulatkan tekad yang kuat untuk kedua kalinya, saya kembali ke imigrasi untuk mengurus penggantian alamat paspor. Tanggal 4 Desember 2013 datanglah saya kesana jam 7.15 dimana pintu gerbang masih ditutup dan karyawan belum banyak yang datang. Ya, karena apel pagi baru dimulai jam 7.15 dan jam kerja pukul 8. Setelah apel, saya buru-buru masuk untuk mengumpulkan berkas dan kelengkapan. Di meja depan, ada satpam yang mengumpulkan berkas. Saya yang datang paling pagi langsung mengumpulkan dan diletakkan di bawah sendiri. “Pak, ini urutannya bagaimana? Saya kan paling bawah, itu yang pertama apa bagaimana?” tanya saya ke pak satpam. “Ooh, tenang pak, saya kan yang menumpuk. Pasti urut dari bawah. Tenang saja” kata pak satpam.

Setelah jam 8, tumpukan berkas dimasukkan ke di meja resepsionis untuk diberi nomor urutan. Dan sayangnya yang ke sana adalah si Ibu Judes dan satu temannya yang masih lebih muda tapi tidak kalah Juteknya. Daaaan... dengan kasarnya mereka mengambil dengan asal tumpukan itu. Saya mulai was was kalau tidak dapat urutan awal mendekati mereka, ”Bu, ini urut numpuknya lho, yang paling bawah yang paling pagi”. Dengan ketus dan menyebakan si judes berkata, “Bapak duduk aja sana, jangan banyak tanya. Nanti nggak selesai-selesai kalau ditanya- tanya melulu”. DAMN! Ini pelayanan macam apa!? Dan setiap kali si Judes selalu berkata kepada orang yang berdiri di dekatnya menunggu berkasnya “Pak, Bu, duduk aja sana, jangan berdiri aja di situ. Sana, cari kursi”. Mendadak saya ingat, kalau memperpanjang paspor dan mengganti alamat paspor kan prosedurnya beda. Baliklah saya ke ibu yang tadi, “Bu, saya mau tanya, apakah prosedur penggantian alamat paspor sama dengan mengurus baru”Dijawab lagi sama si Judes”Pak, bapak duduk saja deh, nggak akan kelewatan kok. Prosedurnya ya sama lah. Coba bapak duduk dulu aja, nanti dipanggil!” Oke, kali ini saya memilih menjauh dari semburan hujan lokal yang memuakkan itu. Dan saya yang datang paling pagi dapat nomer 51! Bahkan orang yang baru datang dan menumpuk berkas justru dapat urutan kecil.

Sepanjang saya mengamati, saya makin mangkel dan terbesit pikiran kayaknya si Judes ini belom pernah makan sandal jepit pake beling dan ditampar pake tabung gas 3 kg. Setiap ada orang yang mendekat membawa map aplikasi berkas selalu saja diterima dengan tidak simpatik. Di mejanya sih memang tertulis pusat pengaduan, tapi kalau orangnya kayak gitu, mana ada yang mau ngadu adanya juga pengen ngeroyok si Judes itu. Ada bapak dan ibu setengah bawa membawa aplikasi dalam map berwarna biru muda yang saya akhirnya tahu itu adalah map berkas imigrasi tapi versi lama. Sampai di depan si Judes, justru si bapak dibentak, “ Pak, ini map siapa yang minta? Bapak beli dulu deh di belakang sana di koperasi. Map nya itu harus seragam Bapaaaaaak” katanya dengan “a” panjang yang sangat menyebalkan. Si Bapak akhirnya kembali dari koperasi dan menukar berkasnya ke dalam map baru. Eh, si Judes komentar lagi “Paaaaaaaaak, ini kok nggak ditulisin map nya? Ditulis dulu siniiiiiiiii!” katanya sambil menunjuk-nunjuk map Bapak itu. Saya Cuma bisa diam. Kalau nggak ingat lagi butuh penggantian alamat paspor, rasanya pengen adu mulut deh sama si Judes.

Semakin diamati, si Judes nggak juga tobat. Omelan dan celetukan macam “Ini kok belom diisi?dilengkapi dulu sana!” atau Buuuuuu, ini aslinya kok disini. Bawa aja! Kalau ilang siapa yang tanggung jawab? Saya yang harus tanggung jawab!?” katanya sambil menunjuk-nujuk dokumen aslinya. Kalau dia nggak pake seragam, mungkin saya berpikirada orang nggak waras lagi nongkrong di situ. Tambah lagi, jam setengah 9, setengah jam si judes memaki-maki banyak orang, bagian pengaduan tersebut “TUTUP”. Dan si judes 1 dan dingin 2 pergi dari situ dengan membawa tas. Entah kemana...

Setelah mengantri, giliran saya dipanggil. Karena saya kemarin sudah diverifikasi, saya menyampaikan kalau hanya ingin ganti alamat. Untung petugas loketnya baik-baik. Dan, jawabannya sungguh mengejutkan “Pak, kalau ganti alamat, langsung saja ke loket sebelah. Nggak perlu foto dan wawancara”. WHAT!? Jadi dari tadi saya harusnya bisa langsung? Dasar Judes! Pengen tak jambak-jambak tenan! Saya tanya ke mbak loket yang baik itu, kalau pasor saya jadi, apakah bisa diambil oleh orang tua? Kata mbak baik itu sih bisa, asal orang tua kandung.

Di loket sebelah, Paspor saya dijanjikan selesai dalam waktu 4 hari. Bisa diambil jam 1 siang. Ketika saya konfirmasi lagi apakah bisa diambil oleh bapak saya, Si bapak dengan (sok) wibawanya “Wah, tidak bisa pak, ini dokumen negara. Berbahaya kalau diambil orang lain”. Lah, kata loket sebelah boleh. Saya bilang seperti itu ke si bapak, malah saya disuruh memastikan ke mbak mbak di loket sebelah. Dan ternyata memang bisa. Nah justru di situ mereka berdebat sendiri. Yang satu bilang boleh yang satu bilang tidak boleh. Mbak baik keukeuh “Bisa diambil orang tuanya kok pak”. Si Bapak membalas “Lha gimana kita tahu kalau yang ngambil orang tuanya?” . Duh jan, mereka aja nggak standar gitu prosedurnya. Mau menunjukkan kalau yang ambil itu bapak saya? Kan ada Kartu keluarga saya, ada akta, ada ijazah, ada tes DNA, kalau perlu saya bawa bidan yang dulu ngelahirin saya deh!

Sekarang saya lagi deg-deg-an muga-muga besok gampang deh ambil paspornya. Tapi setidaknya buat yang mau mengurus paspor sendiri, siapkanlah waktu dan hati anda selebar samudera untuk menghadapi orang-rang macam itu. Pelajaran lain, saya mending ke imigrasi satunya daripada imigrasi ini. Meski lebih jauh dari pabrik, di sana bisa online dan katanya peayanannya jauh lebih ramah. Alternatif terakhir, daripada mood dan kerjaan saya berantakan gara-gara Si Judes, mendingan pake calo deh. Mau berantas calo di Imigrasi? Harusnya kanit imigrasi NGACA dulu! Kenapa orang lebih milih pake calo dan agen daripada ngurus sendiri. La wong beberapa oknumnya diajak ngomong bahasa manusia aja nggak bisa.... Maju terus birokrasi Indonesia!


Selamat berjuang kawan! :D


*2 minggu kemudian saya kembali keImigrasi dan mendapati si ibu judes masih idup aja. Setelah saya mengantri dan menyebutkan no paspor, mereka bilang berkasnya masih dicari.LAH!? saa udah khawatir kemana paspor saya.Setlah 3 jam menunggu, paspor saya ditemukan dan BELUM DIGANTI ALAMATNYA! langsung sama petugasnya disusulkan, dan untungnya prosesnya tidak terlalu lama. terpampang sudah print alamat baru rumah saya. whew, hanya menambahkan seperti itu tapi makan ati... Dan si U-60, Paspor Hijau saya itu sekarang sedang dalam perjalanan menuju jakarta. Bawa kabar baik yaaaak, bawa itu visa Ausie ke tangankuuuh :D