Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Sunday, 21 September 2014

Hmmm... Manuk Londo Lebih Besar dan Tahan Lama... Lezatnya!


Jogja terkenal sekali dengan banyaknya tempat wisata baik tempat wisata sejarah, budaya, dan wisata kuliner. Banyak sekali makanan khas dan unik yang hanya dijumpai di Jogja dan tidak dapat dijumpai di tempat lain. Salah satu jenis makanan yang cukup unik adalah Malon alias Manuk Londo yang bisa anda jumpai di Cupuwatu Resto yang belokasi di tepi Jalan Raya Jogja solo tepatnya di Komplek Grand Cupuwatu, Jl. Solo KM. 11,8 Kalasan, Yogyakarta. 

Hah!? Manuk Londo? Buset, jenis makanan apa lagi ini? Apa lagi dengan tag line iklannya, “Mmmm…hh Manuk Londo memang Besar dan Tahan Lama Lezatnya!!!” membuat siapapun yang melihatnya penasaran dan bertanya-tanya apa itu Manuk Londo. Manuk kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti Burung. Londo artinya di sini adalah bule. Jadi Manuk Londo itu artinya burung bule? Ternyata, Malon itu berarti sejenis unggas dari Prancis yang memiliki nama asli Franch Quail. Unggas ini menjadi salah satu menu andalan rumah makan ini. Pengembangbiakkan malon kemudian dilakukan di Yogyakarta oleh PT Peksi Gunaraharja yang merupakan Group Perusahaan dari PT Cupuwatu Kaya Rasa atau Cupuwatu Resto. Pengolahan dari pengembangbiakan hingga pengolahan menu dilakukan secara professional sehingga konsumen tidak perlu khawatir akan kualitas malon yang disajikan di Cupuwatu Resto. Dan tentu saja, Malon sendiri telah terseretifikasi Halal.

Menariknya lagi, beradsarkan hasil penelitian Laboratorium Pangan Hasil Ternak, Fakultas Peternakan UGM menunjukkan kandungan protein pada Malon lebih tinggi dari bebek dan kandungan kolesterol Malon lebih rendah dari bebek. Sehingga mengurangi risiko terkena penyakit kolesterol.

Ada delapan jenis masakan Malon di Cupuwatu Resto antara lain yang menjadi favorit pelanggan adalah Malon BBQ (olahan malon dengan aroma rempah Eropa dan bercitarasa manis), Malon Bumbu Kuning (olahan malon yang gurih dan meresap hingga ke tulang) serta Malon Peking (olahan malon dengan bumbu peking dengan daging yang wangi dan lembut). Selain itu ada beberapa olahan Malon yang lain antara lain Malon Bakar Klaten (olahan malon yang bercitarasa gurih dengan santan kental), Mie Malon (olahan Mie dengan malon), Gudeg Malon (Citarasa Gudeg yang manis gurih), Nasi Kebuli Malon (olahan dengan bumbu rempah khas timur tengah), dan Sego wiwit (nasi gurih).

Pilihan saya pun jatuh pada Malon Peking, yang menjadi salah satu favorit pengunjung. Tak berapa lama pesanan saya datang. It's quite huge dude! Sajiannya pun menggoda selera. Dengan dua pilihan saus manis dan pedas, akhirnya saya mulai mengekskusi Malon Peking di depan saya. Kulitnya benar-benar garing dan gurih. Rasanya nikmat sekali dicocol dengan sausnya. Begitu saya menggigit dagingnya, lenbut! Teksturnya sedikit mirip dengan daging bebek namun dengan tekstur yang lebih lembut. soooo yummy . Kalau pinjam istilahnya Pak Bondan, Maknyuuusssss....

Kenyang dengan Malon saya minum Lychee dengan sirup, agar-agar dan nata de coco. Komposisi rasanya menyegarkan. Antara sirup dan longan yang segar menimbulkan sensasi asam manis yang menyegarkan. Tentu saja tidak hanya itu, berbagai pilihan makanan dan minuman juga dapat menjadi alternative pilihan anda. Jangan khawatir masalah harga, untuk satu porsi Malon, Pengunjung cukup merogoh kocek sekitar 20-30 ribu rupiah. Cukup terjangkau untuk kenikmatan yang sepadan. Didukung suasana jawa yang kental baik eksterior, interior, dan ambience nya membuat Cupuwatu Resto cocok dijadikan tempat bersantai untuk keluarga maupun bersama rekan dan kolega.

Untuk pemesanan dan informasi lebih lanjut anda bisa menghubungi no telp (0274) 4469261, 4469262 atau langsung datang ke Cupuwatu Resto. Selain itu juga bisa mengunjungi www.cupuwatureso.com untuk melihat pilihan-pilihan menu yang ada di Cupuwatu Resto. Bersiaplah menikmati Manuk Londo, Dude

Jogja, 21 September 2014

*Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Blog Writing Competition Cupuwatu Resto*

Thursday, 28 August 2014

Air Asia : Jawaban dari Mimpi

Saya masih bisa mengingat satu frame ketika mengantarkan saudara saya kembali dari Yogyakarta pada dekade 90an. Sebuah gambar mengenai mahal dan mewahnya naik pesawat. Hanya orang yang berkocek tebal yang mampu terbang, pikir saya waktu itu. Jangankan untuk mencicipi naik pesawat, boro-boro mendekat, keluarga saya mana ada yang mampu untuk membeli tiket pesawat kala itu.

Bangkok, 1st Time with Air Asia
Pemikiran itu saya bawa seiring dewasa. Kalau ingin bepergian, ya jangan menggunakan pesawat. Pakai kendaraan sendiri saja. Biar irit, bisa banyak pula isinya. Jangankan kepikiran ke luar negeri naik pesawat, pemahaman saya waktu itu adalah ke Jakarta naik bus saja sudah luar biasa mahalnya. Hal inilah yang membuat saya selalu punya pilihan destinasi kalau tidak ke Jakarta, ya ke Bali. Pokoknya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan arus globalisasi, perubahan kebijakan dan strategi perang transportasi udara membawa angin segar bagi para rakyat biasa seperti saya. perang tarif antar maskapai pun semakin gencar, dan akhirnya mulai datang kesempatan saya untuk menaiki burung besi ini. Impian yang tadinya terlihat tidak mungkin, kini menjadi sesuatu yang nyata. Namun pada tahun itupun, image saya mengenai dunia penerbangan masih sama seperti dulu. Masih penuh dengan kemewahan dan kesan terlalu mahal masih melekat dalam benak saya. Beberapa kali terbang pun pandangan saya naik pesawat tetap sama, mahal! Apalagi ketika saya mendapatkan hibah tiket untuk bepergian ke Singapura, kesannya saya tidak akan bakalan mampu untuk membeli tiket pesawat.

Sebuah image yang melekat mengenai orang kaya saja yang bisa terbang kemudian sedikit terkikis setelah saya bepergian ke Bangkok bersama dengan keluarga besar saya pada Akhir Desember 2007. Air Asia? Pesawat dari mana itu? Sampai Bangkok nggak itu? Keraguan menggunakan maskapai murah justru hinggap di saat sebelum berangkat. Apalagi waktu itu boradingpass air asia hanyalah secarik sobekan kertas tanpa nomor tempat duduk yang membuat saya dan sepupu saya untuk berlari menuju pesawat untuk mendapatkan tempat duduk dalam 1 deret. Bukannya kapok, namun justru itu menjadi sebuah keasyikan tersendiri dan kenangan yang lucu untuk kami.

Mengenal Banyak Orang dan Kultur
Tujuh tahun berlalu dari kejadian itu, siapa sangka, penerbangan “murah” itu justru menjadi sahabat terbang saya sampai saat ini. Tidak hanya saya, mungkin dunia pun mengakui bahwa Air Asia menjadi leader di kelasnya. Menyabet gelar sebagai Maskapai Budget Rendah selama bertahun-tahun tentu saja tidak lepas dari kerja keras dan dedikasi Air Asia untuk mewujudkan impian banyak orang untuk bisa terbang. Tag “Now Everyone Can Fly” tampaknya bukan hanya isapan jempol belaka. Banyak cerita inspiratif dari banyak orang yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk terbang bersama Air Asia. Dari yang akhirnya disiplin menabung untuk mewujudkan mimpinya, memberi hadiah untuk keluarganya naik pesawat, hingga orang-orang yang berhasil terbang menjejakkan kaki di seluruh dunia dengan Air Asia, dari yang tidak mungkin, kini bisa menjadi kenyataan.

Tidak hanya kisah dari orang lain, Air Asia kini secara tidak langsung mengubah banyak pemikiran dalam diri saya. Saya selalu membayangkan terbang itu mahal, kalau murah itu nggak aman. Namun Air Asia mampu menepis pemikiran itu. Saya akhrinya mempunyai perubahan mindset bahwa suatu perjalanan itu tidaklah ribet dan juga tidak mahal. Bawa apa yang kamu perlukan, bayar sesuai yang kamu butuhkan. Salah satu konsep berpikir ini saya dapatkan setelah beberapa kali naik pesawat terbang. Saya mulai menyadari memang ada kemewahan yang didapatkan ketika naik Full Board Airlines,tapi saya selalu menentang, wong saya hanya ingin pergi dari sini ke sana kok,untuk apa saya bayar lebih mahal untuk fasilitas yang sebenarnya tidak terlalu saya butuhkan?

Perubahan itu tidak hanya dalam aspek”membayar apa yang dibutuhkan” tetapi saya kini berubah dari sosok yang selalu ribet dalam bepergian, menjadi sosok yang sangat ringkas dalam bepergian. Istilah kerennya sih light traveller :D terinspirasi dari penambahan biaya-biaya bagasi saya justru berpikir bagaimana saya tida perlu membayar penambahan biaya, namun cukup membawa barang yang saya butuhkan dalam satu ransel. Selain ringkas, juga barang yang saya bawa sesuai dengan kebutuhan.

Terbiasa Menjadi Solo Traveler
Hal yang saya dapatkan dari memburu mimpi saya dengan begadang demi mendapatkan tiket murah adalah keberanian mengambil keputusan. Tak jarang tiket yang saya beli adalah untuk periode penerbangan tahun depan, atau bahkan belum pasti bisa berangkat atau tidak. Saya juga belajar untuk siap dengan segala kemungkinan terburuk sebagai konsekuensi dari pembelian tiket saya yang terlalu jauh termasuk hangusnya tiket saya akibat Visa Australia yang ditolak. Tapi itu harga yang pantas untuk membeli mimpi saya menjelajah dunia. Saya tidak kapok, justru saya semakin bersemangat dan tertantang untuk menjelajah dunia.

Tiket PromoKE Penang Bersama Sahabat
Kini, saya ditempeli predikat AGI alias Anak Gaul Internasional oleh rekan kerja saya di kantor karena banyaknya penerbangan saya ke luar negeri. Bahkan beberapa menilai saya boros dan menghamburkan uang banyak untuk bepergian. Namun saya tekankan kepada mereka satu hal,terbang ke luar negeri itu bukan sesuatu yang mahal. Yang perlu diperhitungkan adalah perencanaan yang matang untuk bepergian, jadi apa yang dikeluarkan akan sesuai dengan yang dibutuhkan. Hal ini juga yang membuat beberapa rekan saya seringkali berkonsultasi dengan saya karena seringnya saya (yang bahkan mereka sulit percaya) mendapat tiket murah, bahkan gratis.  Salah satu cara yang selalu saya rekomendasikan pada rekan kerja saya dan keluarga tentu saja, pilihlah Air Asia untuk mewujudkan itu semua!

Air Asia Membawa Orang Tua Saya Terbang ke Hongkong
Untuk saya,terbang saat ini adalah suatu kebutuhan, bukan lagi kemewahan. Terbang menjadi kultur pada diri saya dan kini menular pada keluarga saya. Perjalanan itu bukan tentang tujuannya tetapi perjalanan itu sendiri kalau menurut kata bijak. Air Asia menggerakkan kami untuk terus bepergian dan mengenal banyak orang dan budaya yang akhirnya membawa kami untuk senantias berkaca pada diri dan mensyukuri semua yang diberikan olehNya pada kami. Ya, Air Asia kini telah mengubah pemikiran saya, menginspirasi, mewujudkan mimpi saya, dan bisa menerbangkan keluarga saya yang sejak dulu hanya bisa bermimpi untuk terbang.

Bravo Air Asia, Selamat Ulang Tahun yang ke-10! Terima kasih atas kesempatan menjelajah dunia dengan Air Asia. Semoga semakin banyak kisah-kisah inspiratif dan  mimpi yang bisa diwujudkan bersama Air Asia.

#Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam Kompetisi Blog 10 Tahun Air Asia Indonesia

Gresik, 28 Agustus 2014
00.15 WIB






Wednesday, 27 August 2014

SATU MALAM BERSAMA SANCAKA SORE #UNTUKKERETAKU


Saya sejak dulu senang bila bepergian menggunakan kereta api. Selain bebas macet,jarak tempuh ke suatu tempat menjadi lebih singkat. Meski begitu, ada beberapa perjalanan saya yang karena alasan teknis menjadi lebih lama dari seharusnya. Tidak hanya satu dua jam saja, namun hingga lebih dari setengah hari untuk perjalanan kereta yang seharusnya hanya ditempuh 4 jam.Tapi, entah mengapa, justru dari situlah banyak cerita yang unik dan menjadi menarik yang saya alami.

Stasiun Boharan Kala Siang Hari
Perjalanan kali itu adalah perjalanan menggunakan Sancaka Sore hari Sabtu dengan rute Surabaya Gubeng-Yogyakarta Tugu. Biasanya saya berangkat menuju Jogja pada Jumat malam. Namun pada akhir minggu itu saya ada keperluan kantor dan baru bisa kembali ke Jogja pada Sabtu Sore.

Stasiun Boharan Malam Hari
Kereta Sancaka Sore berangkat tepat pada waktunya dari Stasiun Surabaya Gubeng. Waktu itu jadwal keberangkatannya masih pukul 15.00. Sepuluh menit kemudian, kereta berhenti di Stasiun Woonokromo seperti biasa. Namun, hampir setengah jam, kereta tidak kunjung berangkat. Saya yang kebetulan duduk di rangkaian bisnis depan sendiri sempat turun dari kereta dan mengamati lokomotif dari dekat. Bahkan ada beberapa anak muda yang asyik foto di depan lokomotif.

Lampu sinyal merah berubah menjadi hijau, pertanda kereta siap berangkat menuju Jogja. Setelah berjalan dengan tidak terlalu kencang, akhirnya kami sampai di Staiun Boharan. Sebuah stasiun kecil di sekitar daerah Krian. Kereta berhenti cukup lama. Awalnya saya pikir akan ada kereta lain yang lewat. Namun ditunggu cukup lama tidak ada kereta apapun yang lewat. Dan ternyata, tidak tanggung-tanggung, kereta berhenti selama kurang lebih 5 jam! Penyebabnya kini jelas, ada kereta di depan kami yang anjlok sehingga lalulintas kereta api tersendat. Alih-alih merasa sebal, saya justru asyik mengeksplorasi daerah tersebut. Menurut orang sekitar, sebenarnya jaraknya ke jalan besar tidak terlalu jauh apabila ingin menggunakan bus atau kembali ke Surabaya. Namun saya pikir tanggung karena saya sekalian ingin jalan-jalan saja.

Menurut petugas stasiun, Stasiun Boharan termasuk kereta yang jarang disinggahi oleh kereta api bahkan kereta barang sekalipun. Jadi mendengar dari obrolan dan candaan rekan-rekan dari KAI sendiri, petugas Stasiun Boharan kala itu sangat senang karena mendadak banyak tamu. Di tengah areal persawahan dan tidak ada apapun di ssekitarnya, mendadak jadi ramai. Kereta kami mulai jadi tontonan warga sekitar dan anak-anak mereka yang sedang berjalan-jalan sore. Semakin malam, stasiun yang tadinya sepi mendadak berubah penuh dengan aneka penjual makanan! Mulai dari es krim, susu, bakso yang sampai 2 gerobak, mainan anak-anak dan banyak lagi! Penumpang yang menunggu dan kelaparan pun menyerbu para penjual makanan tersebut, termasuk saya tentunya.

Menanti
Bergaya Ala Kepala Perjalanan
Sore beranjak malam,dan pasar malam dadakan masih saja setia meramaikan Stasiun Boharan itu. Saya pun masuk ke dalam kantor stasiun dan mendapati kondektur kereta kami dan juga Kepala Stasiun Boharan sedang mengobrol. Saya minta izin untuk bisa memasuki kantor tersebut dan dengan ramah beliau berdua mempersilahkan saya masuk. Dengan raut muka kelelahan, kondektur kami masih setia melayani dengan ramah pertanyaan penumpang seputar kapan kereta berangkat lagi, ada kejadian apa, bisa di refund tidak tiketnya dan sebagainya.

Saya duduk di ruangan itu dan mengamati begitu banyak pernik stasiun yang belum pernah lihat. Saya yang sejak dulu senang dengan kereta api malah justru memberikan banyak pertanyaan mengenai ini itu kepada Kepala Stasiun. Bahkan saya sempat mencoba menggunakan topi petugas pemberangkatan kereta api dan berpose menggunaakan sinyal berangkat. Seorang bapak yang tadinya memperhatikan ternyata juga ingin berfoto menggunakan topi tersebut da akhirnya mengikuti jejak saya. tak puas sampai di situ, saya meminjamtopi kondektur dan justru asyik berfoto di depan tulisan Stasiun Boharan dan juga Kepala Stasiun. Banyak yang menertawai saya, tapi karena dari dulu saya kepingin ya kapan lagi. (Foto tersebut saya unggah ke media sosial dan banyak dari teman saya yang bertanya apakah sekarang saya pindah ke PT KAI hehehe).

Tidak Cuma itu saya juga mempelajari sinyal sinyal mengenai perkeretaapian. Saya juga melihat bagaimana cara petugas memindahkan jalur kereta, membaca posisi kereta dan sebagainya. Sebuah pengalaman baru yang seru untuk saya. Saya juga menjadi sangat respek dengan para petugas KAI yang senantiasa siaga untuk menjalankan tugsanya dengan penuh tanggung jawab. Sebuah tanggung jawab yang tidak kecil karena lalai sedikit saja, bisa terjadi kejadian yang fatal.

Berpose dengan Sesama Penggemar Kereta
Setelah 5 jam berhenti, akhirnya kereta pun diberangkatkan lagi menuju ke Yoyakarta. Para penumpang yang masih setia menanti akhirnya masuk ke dalam kereta. Karena banyak enumpang yang kembali ke Surabaya dan banyak kursi kosong, saya yang tadinya mendapat kelas bisnis pun berpindah di kelas eksekutif.

Hanya berselang 2 stasiun, kereta kami kembali berhenti. Kini di stasiun Kedinding. Sebuah stasiun kecil sebelum stasiun Tarik. Kereta cukup lama juga berhenti di stasiun Kedinding. Saya pun kembali meminta izin kepada Kepala Stasiun yang kala itu juga cukup senang meski mendapat banyak tamu dadakan. Saya pun mengetahui untuk menjadi petugas Stasiun benar-benar tidak mudah. Saya dtunjukkan sebuah buku panduan yang sangat tebal yang merupakan panduan para Petugas Kereta Api untuk enjalankan tugasnya sehari hari. Lebih luar biasanya lagi, beliau para petugas ini hafal isinya. Salut!

Setelah masuk kereta api ekonomi dari arah Yogyakarta, kereta kami bergerak lagi. Para petugas resto KA membagikan mie dalam cup untuk para penumpangnya. Namun karena sudah mengantuk, saya pun terlelap hingga akhirnya kereta tiba di Yogyakarta pada pukul 06.00 pagi.



Perjalanan yang mungkin cukup lama bagi suatu jarak yang harusnya bisa ditempuh hanya dengan 4 jam saja. Namun saya tidak jera juga untuk naik kereta api di banyak perjalanan saya. dalam perjalanan ini pun belajar mengenai arti sebuah dedikasi dan integritas dalam berkarya serta menjalankan tanggung jawab dari para petugas kereta api terutama di stasiun kecil dan perlintasan yang sepi. Sebuah hal yang patut diapresiasi! Maju terus PT Kereta Api Indonesia! Hidup Penglaju Kereta! :D


Gresik, 27 Agustus 2014

Widiarto Dwi Pracoyo
widiarto.pracoyo@gmail.com


*Tulisan Ini dibuat untuk diikutsertakan dalam kompetisi menulis #UntukKeretaku 

Tuesday, 19 August 2014

SERING NAIK KERETA, BANYAK KENALANNYA! #UNTUKKERETAKU

Saya ingat sekali sejak kecil saya sudah senang sekali naik kereta api. Sampai dengan SMA saya sering menggunakan kereta api selain jarak pendek Jogja-Solo juga ke Bandung dan Jakarta karena sebagian besar keluarga besar saya berada di kota itu.Saya pernah nyletuk ke ibu saya waktu kecil, “Bu, Kapan ya kita naik kereta api ke Surabaya? Apa karena nggak ada saudara kita di Surabaya, jadi kita nggak pernah naik kereta api ke Surabaya?”

Namun siapa sangka, 10 tahun kemudian, Ucapan itu justru kembali kepada saya yang sekarang menjadi pelanggan tetap kereta api Sancaka Sore jurusan Yogyakarta-Surabaya hampir setiap minggu sejak pertengahan tahun 2011 sampai sekarang!

Tiga tahun duduk di dalam bangku kereta api setiap minggu mebuat saya berkenalan dengan berbagai macam jenis dan ragam manusia. Meskipun makin sering saya naik Sancaka, saya perhatikan orangnya ya hanya itu-itu saja alias sama saja dengan saya yang selalu pulang pergi dengan Sancaka Sore setiap minggu. Dari banyak orang itu, muncul juga kejutan-kejutan yang tidak terduga dan cerita-cerita seru dari perjalanan bersama orang-orang tersebut :

  1. Seorang  bapak yang rajin bolak-balik dari Solo-Surabaya. Bapak IS yang kini saya tahu beliau adalah salah satu petinggi perusahaan telekomunikasi Indonesia Regional Jawa Timur. Bapak ini juga yang mengajari untuk membeli pecel di Stasiun Madiun, bukan dari pedagang yang menjajakan di pintu kereta namun benar-benar turun ke Stasiunnya. Kami harus berpacu dengan waktu berhenti kereta yang singkat demi mendapatkan nasi pecel hangat. Sampai sekarang saya masih sering bertemu dengan beliau di Sancaka.
  2. Seorang BApak Hakim yang kini ditugaskan di Mojokerto. Bapak T ini banyak bercerita mengenai seluk beluk hukum di Indonesia. Dari beliaulah saya tahu mengenai wisata di Trowulan dan juga peraturan bahwa 20 tiket bisa ditukar dengan 1 tiket (sebelum ada pengumunan dari KAI seperti sekarang)
  3. Mas T, seorang Karyawan Perusahaan Pemerintah di Surabaya, yang ternyata setelah saya ngobrol, YBS adalah adik kelas kakak saya dan juga sekaligus teman kecil sepupu saya, dan tetangga dosen saya! dunia sempit ya :D
  4. Mas A dan Mbak I, Kedua orang ini adalah teman SMP dan SMA saya! selama ini saya tidak pernah menemukan ada teman angkatan saya yang bekerja di Surabaya dan sekitarnya, lah, ternyata setiap minggu ada mereka juga di Sancaka
  5. Mas H yang ternyata adalah anak dari kolega ibu saya
  6. Mas I, yang saat ini sudah pindah ke Surabaya bersama dengan istrinya setelah kelahiran anak pertama mereka.
  7. Mas A, seorang pengusaha furnitur dan juga tukang negbolang yang calon istrinya masih berdomisili di Jogja. Lumayan, harga produknya jadi harga teman :D
  8. Ada satu bapak dari Madiun yang saya perhatikan selalu menggunakan jaket “Australia” bergambar Koala dan tas Janport. Beliau selalu naik dari Madiun Menuju Surabaya.
  9. Ada satu Bapak yang saya tidak tahu, tetapi waktu saya duduk di kursi depannya, saya mendengar beliau mengobrol dengan sebelahnya, beliau berkata, “ Saya bolak-balik mas tiap minggu dari Jogja ke Surabaya, ini sama kayak Mas yang duduk di depan ini, tiap minggu juga pulang”

Itu semua di luar teman kulaah dan tentu saja teman kantor saya yang sebagian besar pulang ke Jogja ketika Weekend. Bahkan ketika ada acara pernikahan teman kantor kami misalnya, hampir dapat dipastikan setengah gerbong itu kami saling kenal.

Satu lagi, saya pernah menyesal setengah mati ketika tahu cewek yang saya gebet duduknya hanya satu kursi di depan saya dan kami sama-sama tidak tahu padahal kebetulan kereta kosong dan kami berdua sama-sama duduk sendiri. Kami beru menyadari ketika sampai di Surabaya Gubeng hehehehe...
Mungkin masih banyak lagi orang yang saya temui di kereta, dan semuanya memberikan cerita dan pengalaman masing-masing. Sampai sekarang pun saya selalu bersiap untuk kejutan-kejutan dari orang di sebelah saya di Kereta  Sancaka Sore

*Tulisan ini Dibuat untuk mengkuti lomba #UntukKeretaku

Monday, 26 August 2013

SIAP, LAKSANAKAN PERINTAH!

Suatu ketika saya melakukan rekrutmen di Jogja. Pengalaman rekrut sih mugkin sudah biasa,tetapi yang menjadi menyenangkan adalah ini pertama kalinya saya naik pesawat baling-baing ATR dengan ketinggian jelajah yang tidak terlalu tinggi sehingga pemandangan di luar lebih kelihatan. Ya, setidaknya saya terpaksa membayar kelebihan bagasi sih, karena jatah bagasi untuk penumpang hanya 15 kg dan saya harus membawa macam-macam peralatan rekrut sampai ke spanduk dan umbul-umbul.

Waktu itu atasan saya meminta saya membawa bendera produk-produk perusahaan kami sebagai media promosi dan menyemarakkan lokasi tes. Ketika tes berlangsung, saya diminta atasan saya untuk menurunkan dan melipat bendera-bendera itu segera karena akan di bawa ke Semarang esok harinya. Saya mengiyakan, namun tidak langsung melaksanakannya. Ternyata tiba-tiba, tanpa mendung, turunlah hujan deras badai. Alhasil bendera-bendera itu basah kuyup. Di bawah tatapan tajam bos, “Sekarang bagaimanapun caranya, bendera-bendera ini kering ketika di Semarang besok”. Alhasil, sesorean, sampe malam, saya tidak sempat beristirahat, karena sibuk menari dan menunggui bendera-bendera tersebut di keringkan di Laundry.....


 
Moral of the story : kalau sudah diperintahkan segera dijalankan. Jangan ditunda tunda yak :D

Monday, 29 April 2013

TEMAN JALAN

Perjalanan ini, terasa sangat menyakitkan, kalau engkau tak duduk di sampingku, Kawan...
Penggalan lagu dari Ebiet G. Ade tersebut menyadarkan saya, betapa banyak perjalanan yang saya lalui dengan orang lain. Meski seringkali saya jalan-jalan sendiri, namun untungnya, saya tidak pernah sendirian di setiap perjalanan saya.

Curhatan di postingan kali ini saya dedikasikan untuk mereka, yang telah membuat banyak cerita di dalam setiap perjalanan saya, Tanpa Kalian, nggak akan seru deh jalan-jalannya :)


Trainer Community atau TC dan biasanya diplesetkan menjadi Traveler Community karena seringnya kami jalan-jalan (With Trainer Community)
-CANDI RATU BOKO-

 Jalan-Jalan tidak perlu mahal, ke Dieng saja sudah seru (With bapak, ibu, dan tante)
-DIENG PLATEAU-

Gimana nggak suka jalan-jalan, tetangga RT diajakin jalan aja pada kompakan (With X Community GPA)
-KETEP-SELO-BOYOLALI-

Nonton OVJ di Prambanan pun Dijabanin, yang penting jalan-jalannya (With Pasthika, Theda, Mas Pam)
-PRAMBANAN-

Masuk labirin sumur Upas? Nggak perlu takut, ada mas ojek yang siap jadi pemandu dan fotografer (Mas Siapa yah?)
-SITUS MAJAPAHIT - TROWULAN-


I'm SoLucky, dilahirkan di tengah keluarga yang sangat menyukai jalan-jalan (With Widtamiko's Family)
-CHINATOWN, SINGAPORE-

Jalan-Jalan nggak lengkap tanpa sahabat mungil setia saya, Pitjul.Motor asli Jogjakarta yang diekspor khusus keGresik untuk menemani saya jalan-jalan (With Pitjul)
-SURAMADU, JAWA TIMUR-


Dari teman jalan, bisa ketemu teman jalan yang lain lagi. Itulah kenapa harus banyak teman (With Theda and Lely)
-BU AGENG, YOGYAKARTA-

Traveling paling asik bareng temen yang menginspirasi buat jalan, jalan. Salah satunya cewek tangguh ini (With RizkaRie)
-UNIVERSAL STUDIO, SINGAPORE-

Jangan Pernah takut untuk jalan sendiri, karena selalu ada teman baru di suasana baru (with Anish Chandran)
-UNIVERSAL STUDIOS, SINGAPORE-

Rencana yang nggak terduga malah kadang jadi. (With Ikekus, Theda, Mas Pam)
-BROMO, JAWA TIMUR-

KApan lagi main ke pulau indah yang terpencil kalau nggak ada teman di sana? senang bisa ketemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi (With BalaBawean)
-PULAU BAWEAN, JAWA TIMUR-


Pikinik Keluarga seru juga loh. apalagi keluarganya di tempat tujuan wisata hehehe (With Mas Ari's Family)
-LOMBOK, NTB-

MAlaka? Sendiri? Siapa Takut. Thank'sTo William yang sudah rela menjadi fotografer saya (with William)
-MELAKA-MALAYSIA-

Ikut Open Trip bisa tambah temen baru. bisa banget malah. salah satu open trip paling berkesan adalah di sini, dimana banyak keseruan dan kegilaan bersama (with Genk Baluran)
-TAMAN NASIONAL BALURAN, JAWA TIMUR-

Pikinik Keluarga Besar emang seru. apalagi semua sepupu suka ngelayap nggak jelas (With Sepupu Kel. Wardjan)
-GOA PINDUL, YOGYAKARTA-

Tidak perlu beramai-ramai, sendiri juga nggak masalah.banyak temen baru. bule semua pula (With siapa aja yah dulu?)
-PULAU MENJANGAN, BALI BARAT-

Blessing in disgusie. karena nggak ada kegiatan, akhirnya malah ngelayap ke malang, dan thank's to diklat Petro,kok ya pas ada training in house. nebeng deh (With Rilant, Fajar, Bara)
-MALANG JAWA TIMUR-

Sahabat tidak pernah ada habisnya. 20 tahun besama bukan waktu yang singkat dan bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani. Luar biasa! (With Inna and Irfan)
-BOROBUDUR SUNRISE, MAGELANG_

Naik Gunung bukan monopoli kaum muda. Bapak dan ibu bener-bener hebat bisa sampai ke puncak dengan medan yang seperti ini. (With bapak and ibu)
-BUKIT NGLANGGERAN, YOGYAKARTA-

Ini Makasar Mi! MAsih Indonesia, dan masih banyak orang baik di sekitar kita. (With Mas Rama, Mas Reza, Mas Azim)
-BANTIMURUNG, MAKASSAR-

Salah satu perjalanan trip paling luar biasa yang pernah saya lakukan. Ini perjalanan penuh dengan orang-orang hebat yang menginspirasi (With Sarangheyo Team)
-TAMAN NASIONAL UJUNG KULON, BANTEN-

Para Pemburu Promo ini memang nggak ada matinya. dari dini hari sampai dini hari nggak kalah staminanya buat mengejar apa yang ingin dilihat (With Mbak maya, MAs Ari, Theda)
-PENANG, MALAYSIA-

Tidak direncanakan, tetapi bertemu lagi dengan orang-orang gokil dan luar biasa.
-PULAU PARI, KEPULAUAN 1000-


Perjalanan pertama, yang membuka mata saya tentang betapa luasnya dunia ini untuk dijelajahi. benar-benar sebuah perjalanan yang saya anggap sebagai titik awal saya mempunyai keinginan kuat untuk menjelajah dunia (With Rini, Rizka, dan Is brother)
-KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH-

Backpacker ala keluarga Wardjan. Kayaknya ketagihan deh. tapi ala koper ahahah (With Nandi and Nindha)
-PULAU BALI-

Jalan-jalan sama kantor? kenapa tidak? nggak cuma kerjaan, jalan-jalan pun maju (With CanbangHI team)
-BATU, MALANG-