Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Wednesday, 4 March 2015

Ini Soal Traveler Jomblo

Image result for traveler couple
Tiba-tiba saja saya ingin bikin tulisan yang lain dari biasanya. meski ini masih mirip dengan tema nya sih, jalan-jalan juga, tapi rasanya kok saya pengen nulis soal ini. Mungkin karena usianya udah masuk usia rawan nikah kali ya hahahaha...

Awalnya bersumber dari postingan teman-teman di Path soal "janganlah kamu menanyakan sesuatu yang mungkin itu bisa menyinggung dan mempengaruhi lawan bicaramu". Saya tergelitik untuk ikut bertanya, "Ini termasuk kalau soal tanya kamu nikah kapan gitu nggak?". Saya sih enggak sensi, enggak marah, enggak tersinggung. Sebenernya secara etika internasional pertanyaan macam ini sudah sangat privasi. Cuma mungkin orang kita aja yang awalnya basa basi berujung jadi kebiasaan. Kebiasaan kok nggak ngenakin gitu ya hahahaha... Tapi sekali lagi, Saya seriusan nggak marah atawa tersinggung kalo ditanya model begituan, cuma bosan aja sih menjawab pertanyaan yang saya sendiri aja kagak ngerti gimana menjawabnya :D

Memang kalo mau merunut banyak sumber, pernikahan itu sebenarnya sudah merupakan budaya dari sejak jaman dulu kala. Termasuk juga agama menuliskan bahwa menikah itu menyempurnakan iman dan jodoh itu sudah digariskan. Secara teori psikologi pun, salah satu fase hidup manusia untuk mencapai kesempurnaan adalah dengan melalui fase menikah. Namun kadang saya bertanya dalam hati, kalau orang tidak menikah atau belum menikah di usia yang matang itu apakah salah? Kalau orang belum menikah sampai meninggal itu berarti apakah nggak ada jodohnya? Lalu kalo dia nggak menikah maka hidupnya nggak sempurna?
Image result for marriage ring

Saya sih meyakini bahwa setiap orang punya jalan cerita masing-masing. Baik Buruk kurang lebih hidup manusia sudah tergambar dalam buku Sang Pencipta. Kita kan hanya perlu menjalani saja sesuai dengan tulisannya.tentu saja ikhtiar itu perlu.

Anyway saya menulis ini bukan berarti saya tidak mau menikah lho ya. Saya ya manusia biasa saja yang juga pengen punya keturunan, pengen punya keluarga, lalu hidup-mati bersama dengan partner hidup saya kelak. Mungkin saat ini saya belum diberi hidayah dan inayah kali ya dari Yang Di Atas untuk segera mencari tulang rusuk saya yang hilang hehehe....

Jujur se jujur jujur nya, meski banyak teman seusia saya yang sudah menikah bahkan sudah punya 3 anak, saya masih belum pengen tuh punya calon istri. Saya nya nyantai, tapi kok rasa-rasanya orang sekitar saya pada heboh maksimal untuk mencomblangkan saya bahkan menjodohkan saya langsung.

Setiap ada acara perhelatan, pernikahan, kumpul keluarga, arisan, atau apapun selalu ditanya, “kapan nyusul?” “habis ini giliranmu lho” “siapa sih gandengannya?” “udah punya rumah, mobil, kurang apa lagi? Segera cari istri” “si anu sudah menikah, si itu sudah, kamu kapan?””pacarmu yang mana sih?” and soooooo many questions about that. Makanya saya malah kadang berpikir menikah (atau punya pacar) adalah lomba balap karung atau lomba lompat kodok. Siapa cepat dia hebat, dia yang menang. Jadi kalau belum menikah, dipanas-panasin akan semakin semangat buat cari pasangan. Ya kalo orangnya achievment nya tinggi. Kalo dianya jadi minder kan malah berabe nyong!

Kadang saya berpikir kenapa sih menikah diasosiasikan dengan simbol kemapanan? Sudah punya rumah, mobil, apa lantas harus langsung menikah? Yakali kalo idup sang istri cuma nafkah lahir doank buat belanja-belanji. Kalo pake nafkah batin? Belum siap, dipaksa nikah dengan alasan sudah mapan. Udah deh, dijamin bubar. Satu lagi, menurut saya menikah itu bukan metode urut kacang. Yang lebih tua, pasti menikah duluan. Kalau kakanya sudah menikah, habis itu giliran adiknya. Itu nikah, apa kewajiban layaknya negara menjamin anak terlantar sesuai pasal 34, apa piala bergilir? Kok harus pake banget gitu?

Sekali lagi saya tidak skeptis ketika orang lain menanyakan hal semacam itu kepada saya. Saya nggak panas kok kalo dikomporin segera disuruh nikah, atau saya juga nggak down kalo si anu atau ini atau itu sudah kawin cerai sementara saya sendiri acar aja belom punya. Saya pasti akan jujur menjawab “belum ada niatan ke untuk menikah”. Dan selalu akan mendapat wejangan, ceramah, ucapan simpati yang entah dari dasar hati atau bahkan mendapat pandangan kasihan-banget-deh-loe-kok-belum-laku. La memang kenyataannya seperti itu. Buat saya niat itu penting dan utama.

Sebenarnya ini analogi bodoh saya, saya mau beli rumah, saya nabung, saya puasa, saya belain minjem, sampe ngutang, akhirnya punya rumah. Saya niat beli mobil maka saya nabung, nyari mobil, ngutang lagi, dan akhirnya perjuangan saya berujung pada punya mobil. Nah, sekarang, kalo saya belum niat menikah, mau sampe berbusa dan berbuih saya diminta kawin, ya saya belom siap dan belom mau. Wong niatannya aja belum  ada. Saya sih masih pengen traveling dan menjelajah dunia hehehe...

Terus apa hubungannya traveling sama jomblo? Sebenernya ini nggak ada korelasinya sih. Biar heboh aja hahahhaa... Tapi enggak juga sih, bisa jadi ini berawal dari omongan orang-orang sekitar yang mungkin sedikit khawatir melihat hobi saya jalan-jalan mulu tapi belum mikirin buat kawin. Dari situ saya iseng sih melihat temen-temen traveling saya. Memang sih kebanyakan masih jomblo. Yaiyalah secara mereka rata-rata masih usia anak sekolahan. Emang udah mikirin kawin? yang udah seusia saya ya mikirinnya nikah sama gimana beli susu buat anaknya lah Hehehe... Tapi jangan salah ada juga kok dari traveling dapet jodoh. Banyak malah :D

Image result for traveler couple
So, soal nikah belum menikah itu menurut saya itu kembali pada garis hidup manusia itu sendiri. Tapi semua tentu saja tergantung dari niatan dan ikhtiar manusia itu sendiri. Selama belum dapat pencerahan, mau doyan traveling, mau dijodhin sampe butek, tapi kalau bukan dan belum jodohnya, ya mau apa lagi. Sekali lagi tugas manusia yang hanya berdoa, pasrah dan terus berusaha. Dan saya tidak menolak kalau dibantuin doa lho, instead of asking “kapan kawin?”:D. Ingat, bantuinnya doa biar niatannya muncul ya, bukan bantuin mencomblangkan atau menjodohkan, atau bahkan memaksa saya dengan seseorang *dih,sok jual mahal* hahahhahahaa.....








Wednesday, 27 August 2014

SATU MALAM BERSAMA SANCAKA SORE #UNTUKKERETAKU


Saya sejak dulu senang bila bepergian menggunakan kereta api. Selain bebas macet,jarak tempuh ke suatu tempat menjadi lebih singkat. Meski begitu, ada beberapa perjalanan saya yang karena alasan teknis menjadi lebih lama dari seharusnya. Tidak hanya satu dua jam saja, namun hingga lebih dari setengah hari untuk perjalanan kereta yang seharusnya hanya ditempuh 4 jam.Tapi, entah mengapa, justru dari situlah banyak cerita yang unik dan menjadi menarik yang saya alami.

Stasiun Boharan Kala Siang Hari
Perjalanan kali itu adalah perjalanan menggunakan Sancaka Sore hari Sabtu dengan rute Surabaya Gubeng-Yogyakarta Tugu. Biasanya saya berangkat menuju Jogja pada Jumat malam. Namun pada akhir minggu itu saya ada keperluan kantor dan baru bisa kembali ke Jogja pada Sabtu Sore.

Stasiun Boharan Malam Hari
Kereta Sancaka Sore berangkat tepat pada waktunya dari Stasiun Surabaya Gubeng. Waktu itu jadwal keberangkatannya masih pukul 15.00. Sepuluh menit kemudian, kereta berhenti di Stasiun Woonokromo seperti biasa. Namun, hampir setengah jam, kereta tidak kunjung berangkat. Saya yang kebetulan duduk di rangkaian bisnis depan sendiri sempat turun dari kereta dan mengamati lokomotif dari dekat. Bahkan ada beberapa anak muda yang asyik foto di depan lokomotif.

Lampu sinyal merah berubah menjadi hijau, pertanda kereta siap berangkat menuju Jogja. Setelah berjalan dengan tidak terlalu kencang, akhirnya kami sampai di Staiun Boharan. Sebuah stasiun kecil di sekitar daerah Krian. Kereta berhenti cukup lama. Awalnya saya pikir akan ada kereta lain yang lewat. Namun ditunggu cukup lama tidak ada kereta apapun yang lewat. Dan ternyata, tidak tanggung-tanggung, kereta berhenti selama kurang lebih 5 jam! Penyebabnya kini jelas, ada kereta di depan kami yang anjlok sehingga lalulintas kereta api tersendat. Alih-alih merasa sebal, saya justru asyik mengeksplorasi daerah tersebut. Menurut orang sekitar, sebenarnya jaraknya ke jalan besar tidak terlalu jauh apabila ingin menggunakan bus atau kembali ke Surabaya. Namun saya pikir tanggung karena saya sekalian ingin jalan-jalan saja.

Menurut petugas stasiun, Stasiun Boharan termasuk kereta yang jarang disinggahi oleh kereta api bahkan kereta barang sekalipun. Jadi mendengar dari obrolan dan candaan rekan-rekan dari KAI sendiri, petugas Stasiun Boharan kala itu sangat senang karena mendadak banyak tamu. Di tengah areal persawahan dan tidak ada apapun di ssekitarnya, mendadak jadi ramai. Kereta kami mulai jadi tontonan warga sekitar dan anak-anak mereka yang sedang berjalan-jalan sore. Semakin malam, stasiun yang tadinya sepi mendadak berubah penuh dengan aneka penjual makanan! Mulai dari es krim, susu, bakso yang sampai 2 gerobak, mainan anak-anak dan banyak lagi! Penumpang yang menunggu dan kelaparan pun menyerbu para penjual makanan tersebut, termasuk saya tentunya.

Menanti
Bergaya Ala Kepala Perjalanan
Sore beranjak malam,dan pasar malam dadakan masih saja setia meramaikan Stasiun Boharan itu. Saya pun masuk ke dalam kantor stasiun dan mendapati kondektur kereta kami dan juga Kepala Stasiun Boharan sedang mengobrol. Saya minta izin untuk bisa memasuki kantor tersebut dan dengan ramah beliau berdua mempersilahkan saya masuk. Dengan raut muka kelelahan, kondektur kami masih setia melayani dengan ramah pertanyaan penumpang seputar kapan kereta berangkat lagi, ada kejadian apa, bisa di refund tidak tiketnya dan sebagainya.

Saya duduk di ruangan itu dan mengamati begitu banyak pernik stasiun yang belum pernah lihat. Saya yang sejak dulu senang dengan kereta api malah justru memberikan banyak pertanyaan mengenai ini itu kepada Kepala Stasiun. Bahkan saya sempat mencoba menggunakan topi petugas pemberangkatan kereta api dan berpose menggunaakan sinyal berangkat. Seorang bapak yang tadinya memperhatikan ternyata juga ingin berfoto menggunakan topi tersebut da akhirnya mengikuti jejak saya. tak puas sampai di situ, saya meminjamtopi kondektur dan justru asyik berfoto di depan tulisan Stasiun Boharan dan juga Kepala Stasiun. Banyak yang menertawai saya, tapi karena dari dulu saya kepingin ya kapan lagi. (Foto tersebut saya unggah ke media sosial dan banyak dari teman saya yang bertanya apakah sekarang saya pindah ke PT KAI hehehe).

Tidak Cuma itu saya juga mempelajari sinyal sinyal mengenai perkeretaapian. Saya juga melihat bagaimana cara petugas memindahkan jalur kereta, membaca posisi kereta dan sebagainya. Sebuah pengalaman baru yang seru untuk saya. Saya juga menjadi sangat respek dengan para petugas KAI yang senantiasa siaga untuk menjalankan tugsanya dengan penuh tanggung jawab. Sebuah tanggung jawab yang tidak kecil karena lalai sedikit saja, bisa terjadi kejadian yang fatal.

Berpose dengan Sesama Penggemar Kereta
Setelah 5 jam berhenti, akhirnya kereta pun diberangkatkan lagi menuju ke Yoyakarta. Para penumpang yang masih setia menanti akhirnya masuk ke dalam kereta. Karena banyak enumpang yang kembali ke Surabaya dan banyak kursi kosong, saya yang tadinya mendapat kelas bisnis pun berpindah di kelas eksekutif.

Hanya berselang 2 stasiun, kereta kami kembali berhenti. Kini di stasiun Kedinding. Sebuah stasiun kecil sebelum stasiun Tarik. Kereta cukup lama juga berhenti di stasiun Kedinding. Saya pun kembali meminta izin kepada Kepala Stasiun yang kala itu juga cukup senang meski mendapat banyak tamu dadakan. Saya pun mengetahui untuk menjadi petugas Stasiun benar-benar tidak mudah. Saya dtunjukkan sebuah buku panduan yang sangat tebal yang merupakan panduan para Petugas Kereta Api untuk enjalankan tugasnya sehari hari. Lebih luar biasanya lagi, beliau para petugas ini hafal isinya. Salut!

Setelah masuk kereta api ekonomi dari arah Yogyakarta, kereta kami bergerak lagi. Para petugas resto KA membagikan mie dalam cup untuk para penumpangnya. Namun karena sudah mengantuk, saya pun terlelap hingga akhirnya kereta tiba di Yogyakarta pada pukul 06.00 pagi.



Perjalanan yang mungkin cukup lama bagi suatu jarak yang harusnya bisa ditempuh hanya dengan 4 jam saja. Namun saya tidak jera juga untuk naik kereta api di banyak perjalanan saya. dalam perjalanan ini pun belajar mengenai arti sebuah dedikasi dan integritas dalam berkarya serta menjalankan tanggung jawab dari para petugas kereta api terutama di stasiun kecil dan perlintasan yang sepi. Sebuah hal yang patut diapresiasi! Maju terus PT Kereta Api Indonesia! Hidup Penglaju Kereta! :D


Gresik, 27 Agustus 2014

Widiarto Dwi Pracoyo
widiarto.pracoyo@gmail.com


*Tulisan Ini dibuat untuk diikutsertakan dalam kompetisi menulis #UntukKeretaku 

Thursday, 5 December 2013

Mengurus Paspor Sendiri : Gampang tapi Makan Hati

Travelling keluar negeri itu menyenangkan, apalagi dibayarin hehehe.... tapi menurut saya, untuk sesuatu yang menyenangkan itu tetap ada hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan, dan menurut saya membutuhkan pengorbanan besar adalah mengurus dokumen perjalanan yang disebut dengan PASPOR.

Mengurus paspor itu memang gampang. Tetapi memerlukan kesabaran dan hati yang selebar samudera Hindia menghadapi oknum-oknum yang kurang simpatik. Sebagai kuli penggemar jalan-jalan, ada beberapa masalah ketika saya terpaksa harus mengurus paspor. Pertama adalah waktu mengurus paspor yang mengharuskan saya bolak-balik dari pabrik ke Imigrasi yang jaraknya tidak dekat diantara kesibukan di kantor. Datang pertama untuk menyerahkan berkas, datang kedua untuk foto dan wawancara, datang ketiga untuk pengambilan. Ingat, semua itu dilakukan di hari kerja dan jam kerja. Bisa dibayangkan sulitnya mencari waktu 3 kali ijin dari pabrik setidakya setengah hari tiap pergi. Kenapa tidak online dulu? Imigrasi yang terdekat dengan pabrik belum menggunakan sistem online. Kalaupun online, itu tidak berlaku dan tetap harus mengantri di Imigrasi langsung.

Masalah kedua, saya termasuk orang yang ogah mengeluarkan duit lebih untuk hal yang sebenarnya tidak perlu saya lakukan. Bayangkan, untuk paspor 48 halaman yang seharga Rp 255.000, saya harus membayar 3 kali lipat lebih, meskipun enaknya saya tinggal janjian kapan luang tinggal foto dan wawancara. Sisanya tahu beres, dan paspor sudah di tangan. Tidak ribet, paspor di tangan,majikan senang karena buruhnya nggak kemana-mana hehehe.

Mengingat bulan Maret 2014 saya hendak pergi ke Australia dan harus apply visa, saya berniat dan membulatkan tekad untuk mengurus paspor sendiri, daripada saya harus bayar mahal-mahal. Dan, memang, kesabaran dan kebesaran hati mutlak diperlukan ketika mengurus paspor sendiri.

Kamis, 28 November 2013, kebetulan bos-bos pada pergi dan akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang paspor saya yang expirednya masih 1 Desember 2014. Sebenarnya keinginan memperpanjang paspor ini berawal dari ketakutan saya kalau visa Australianya ditolak karena masa berlaku paspor kurang dari 1 tahun. Padahal menurut informasi, paling tidak diatas 6 bulan. Yasudah, daripada ragu-ragu, lebih baik saya ganti alamat paspor. Berangkatlah saya naik Pitjul ke Imigrasi tersebut. Sampai di sana sekitar pukul 10.00. Saya melihat, tidak terlalu ramai. Saya masuk dan tanya ke satpam prosedur mengurus paspor di Imigrasi itu. Pak satpam hanya menjawab : “Wah mas, sudah tutup. Tuh, petugasnya sudah nggak ada” katanya sambil menunuk meja informasi dengan tulisan ‘TUTUP’. “Kalau mau mas bisa beli formulir di koperasi dulu” . Dilihat dari jam kerja, penyerahan berkas berakhir pukul 11.00 tapi kok jam 10 sudah tutup. Okelah, saya turuti untuk beli blangko dan fotokopi persyaratan. Setelah saya isi, saya kembali ke depan dan mencari petugas untu ditanyai.dan tidak ada satupun petugas yang tampak. Saya menuju meja resepsionis dan muncullah ibu-ibu judes: “Mas,sudah tutup!” sambil membentak. Saya balik bertanya “Lalu saya harus bagaimana bu?  Saya ingin tahu prosedurnya”. Dengan masih ngomel, menggerutu, muka judes si ibu menjawab “Dibilang sudah tutup ya sudah tutup!” . “Lalu saya harus bagaimana? Saya kan tanya bu, saya harus bagaimana”. Dan akhirnya dengan decakan keras dari si ibu dan rentetan omelan, “Ah, sudah, sini, saya kasih nomer saja. Sudah dibilang tutup dari tadi kok! Ini dibatesin mas, per hari 100. Jadi tidak menumpuk!” katanya sambil menjepret nomer antrian 80 di map berkas saya. Ya, 80! Masih 80 orang dan dia bilang sudah penuh? Oke, saya biarkan saja, meski saya sudah dongkol setengah mati. Akhirnya tak berapa lama nomer saya dipanggil. Setelah dipanggil,  saya tidak bisa perpanjangan paspor karena expirednya yang masih lebih dari 6 bulan. Saya yang berpikir bisa perpanjangan hari itu juga, akhirnya kecewa terpaksa pulang dan LUPA kalau saya harus mengganti alamat paspor dari alamat Jogja ke Gresik. Ya, saya lupa, salah satunya karena saya sudah emosi duluan dengan ibu-ibu judes yang di depan tadi.

Sampai di kosan,saya langsungmenyesal,kenapa nggak tadi diurus sekalian, dan terpaksa deh saya mengulang proses yang sama untuk ke imigrasi lagi. Akhirnya dengan membulatkan tekad yang kuat untuk kedua kalinya, saya kembali ke imigrasi untuk mengurus penggantian alamat paspor. Tanggal 4 Desember 2013 datanglah saya kesana jam 7.15 dimana pintu gerbang masih ditutup dan karyawan belum banyak yang datang. Ya, karena apel pagi baru dimulai jam 7.15 dan jam kerja pukul 8. Setelah apel, saya buru-buru masuk untuk mengumpulkan berkas dan kelengkapan. Di meja depan, ada satpam yang mengumpulkan berkas. Saya yang datang paling pagi langsung mengumpulkan dan diletakkan di bawah sendiri. “Pak, ini urutannya bagaimana? Saya kan paling bawah, itu yang pertama apa bagaimana?” tanya saya ke pak satpam. “Ooh, tenang pak, saya kan yang menumpuk. Pasti urut dari bawah. Tenang saja” kata pak satpam.

Setelah jam 8, tumpukan berkas dimasukkan ke di meja resepsionis untuk diberi nomor urutan. Dan sayangnya yang ke sana adalah si Ibu Judes dan satu temannya yang masih lebih muda tapi tidak kalah Juteknya. Daaaan... dengan kasarnya mereka mengambil dengan asal tumpukan itu. Saya mulai was was kalau tidak dapat urutan awal mendekati mereka, ”Bu, ini urut numpuknya lho, yang paling bawah yang paling pagi”. Dengan ketus dan menyebakan si judes berkata, “Bapak duduk aja sana, jangan banyak tanya. Nanti nggak selesai-selesai kalau ditanya- tanya melulu”. DAMN! Ini pelayanan macam apa!? Dan setiap kali si Judes selalu berkata kepada orang yang berdiri di dekatnya menunggu berkasnya “Pak, Bu, duduk aja sana, jangan berdiri aja di situ. Sana, cari kursi”. Mendadak saya ingat, kalau memperpanjang paspor dan mengganti alamat paspor kan prosedurnya beda. Baliklah saya ke ibu yang tadi, “Bu, saya mau tanya, apakah prosedur penggantian alamat paspor sama dengan mengurus baru”Dijawab lagi sama si Judes”Pak, bapak duduk saja deh, nggak akan kelewatan kok. Prosedurnya ya sama lah. Coba bapak duduk dulu aja, nanti dipanggil!” Oke, kali ini saya memilih menjauh dari semburan hujan lokal yang memuakkan itu. Dan saya yang datang paling pagi dapat nomer 51! Bahkan orang yang baru datang dan menumpuk berkas justru dapat urutan kecil.

Sepanjang saya mengamati, saya makin mangkel dan terbesit pikiran kayaknya si Judes ini belom pernah makan sandal jepit pake beling dan ditampar pake tabung gas 3 kg. Setiap ada orang yang mendekat membawa map aplikasi berkas selalu saja diterima dengan tidak simpatik. Di mejanya sih memang tertulis pusat pengaduan, tapi kalau orangnya kayak gitu, mana ada yang mau ngadu adanya juga pengen ngeroyok si Judes itu. Ada bapak dan ibu setengah bawa membawa aplikasi dalam map berwarna biru muda yang saya akhirnya tahu itu adalah map berkas imigrasi tapi versi lama. Sampai di depan si Judes, justru si bapak dibentak, “ Pak, ini map siapa yang minta? Bapak beli dulu deh di belakang sana di koperasi. Map nya itu harus seragam Bapaaaaaak” katanya dengan “a” panjang yang sangat menyebalkan. Si Bapak akhirnya kembali dari koperasi dan menukar berkasnya ke dalam map baru. Eh, si Judes komentar lagi “Paaaaaaaaak, ini kok nggak ditulisin map nya? Ditulis dulu siniiiiiiiii!” katanya sambil menunjuk-nunjuk map Bapak itu. Saya Cuma bisa diam. Kalau nggak ingat lagi butuh penggantian alamat paspor, rasanya pengen adu mulut deh sama si Judes.

Semakin diamati, si Judes nggak juga tobat. Omelan dan celetukan macam “Ini kok belom diisi?dilengkapi dulu sana!” atau Buuuuuu, ini aslinya kok disini. Bawa aja! Kalau ilang siapa yang tanggung jawab? Saya yang harus tanggung jawab!?” katanya sambil menunjuk-nujuk dokumen aslinya. Kalau dia nggak pake seragam, mungkin saya berpikirada orang nggak waras lagi nongkrong di situ. Tambah lagi, jam setengah 9, setengah jam si judes memaki-maki banyak orang, bagian pengaduan tersebut “TUTUP”. Dan si judes 1 dan dingin 2 pergi dari situ dengan membawa tas. Entah kemana...

Setelah mengantri, giliran saya dipanggil. Karena saya kemarin sudah diverifikasi, saya menyampaikan kalau hanya ingin ganti alamat. Untung petugas loketnya baik-baik. Dan, jawabannya sungguh mengejutkan “Pak, kalau ganti alamat, langsung saja ke loket sebelah. Nggak perlu foto dan wawancara”. WHAT!? Jadi dari tadi saya harusnya bisa langsung? Dasar Judes! Pengen tak jambak-jambak tenan! Saya tanya ke mbak loket yang baik itu, kalau pasor saya jadi, apakah bisa diambil oleh orang tua? Kata mbak baik itu sih bisa, asal orang tua kandung.

Di loket sebelah, Paspor saya dijanjikan selesai dalam waktu 4 hari. Bisa diambil jam 1 siang. Ketika saya konfirmasi lagi apakah bisa diambil oleh bapak saya, Si bapak dengan (sok) wibawanya “Wah, tidak bisa pak, ini dokumen negara. Berbahaya kalau diambil orang lain”. Lah, kata loket sebelah boleh. Saya bilang seperti itu ke si bapak, malah saya disuruh memastikan ke mbak mbak di loket sebelah. Dan ternyata memang bisa. Nah justru di situ mereka berdebat sendiri. Yang satu bilang boleh yang satu bilang tidak boleh. Mbak baik keukeuh “Bisa diambil orang tuanya kok pak”. Si Bapak membalas “Lha gimana kita tahu kalau yang ngambil orang tuanya?” . Duh jan, mereka aja nggak standar gitu prosedurnya. Mau menunjukkan kalau yang ambil itu bapak saya? Kan ada Kartu keluarga saya, ada akta, ada ijazah, ada tes DNA, kalau perlu saya bawa bidan yang dulu ngelahirin saya deh!

Sekarang saya lagi deg-deg-an muga-muga besok gampang deh ambil paspornya. Tapi setidaknya buat yang mau mengurus paspor sendiri, siapkanlah waktu dan hati anda selebar samudera untuk menghadapi orang-rang macam itu. Pelajaran lain, saya mending ke imigrasi satunya daripada imigrasi ini. Meski lebih jauh dari pabrik, di sana bisa online dan katanya peayanannya jauh lebih ramah. Alternatif terakhir, daripada mood dan kerjaan saya berantakan gara-gara Si Judes, mendingan pake calo deh. Mau berantas calo di Imigrasi? Harusnya kanit imigrasi NGACA dulu! Kenapa orang lebih milih pake calo dan agen daripada ngurus sendiri. La wong beberapa oknumnya diajak ngomong bahasa manusia aja nggak bisa.... Maju terus birokrasi Indonesia!


Selamat berjuang kawan! :D


*2 minggu kemudian saya kembali keImigrasi dan mendapati si ibu judes masih idup aja. Setelah saya mengantri dan menyebutkan no paspor, mereka bilang berkasnya masih dicari.LAH!? saa udah khawatir kemana paspor saya.Setlah 3 jam menunggu, paspor saya ditemukan dan BELUM DIGANTI ALAMATNYA! langsung sama petugasnya disusulkan, dan untungnya prosesnya tidak terlalu lama. terpampang sudah print alamat baru rumah saya. whew, hanya menambahkan seperti itu tapi makan ati... Dan si U-60, Paspor Hijau saya itu sekarang sedang dalam perjalanan menuju jakarta. Bawa kabar baik yaaaak, bawa itu visa Ausie ke tangankuuuh :D